Saturday, February 3, 2007

Feeling the Freedom


a book review of Reading Lolita in Tehran
The #1 New York Times Bestsellers
A memoir in a book by Azar Nafisi
347 + ix (pgs), published by Random House USA

-For Ayox, in the loneliness island of Bacan North Maluku, enjoy reading life sentences-


“The genuine democracy cannot exist without the freedom to imagine and the right to use imaginative works without any restriction” (Nafisi on Reading Lolita in Tehran)


I was accompanying my friend looking for English books in one foreign bookstore in Yogya, when I saw “Reading Lolita in Tehran”. I read the comments on the back page; it was very attractive, successfully persuaded me not to leave the bookstore without having it.

Imported books are much more expensive here, even though Yogya has many English readers as a tourism place, it does not has any impact of the price of imported book to getting cheaper. But I don’t want to wait until the translated edition published in Indonesia, it may take 2 or 3 years after.

This book is a memoir of a university teacher who teaches literacy, named Azar Nafisi. Teaching in the Islamic Republic was subservient to politics and subject to arbitrary rules. She resigned from the university she used to work, she felt there is no freedom on exploring the subject she teach under the arbitrary and narrow minded of the regime. Then she selected seven female of her students continuing the class at her house, a secret class.

Under the Iran revolutionary regime with very fundamentalist Islamic setting, she teaches western classic literacy. They gathered the freedom of thought trough fictions. It seemed that Nabokov’s novel “Lolita” was inspiring this book. They tried to understand, the reality of life under the regime and the reality on fiction.

Why Lolita? Lolita was not critique of the Islamic Republic. Lolita a novel about a man who in order to possess and captivate a twelve- year old girls, indirectly causes the death of her mother. Lolita went against the grain of all totalitarian perspectives. Nafisi asks to imagine reading Lolita in Tehran, connecting to their reality of life. Nabokov calls every great novel a fairy tale, every fairy tale offers the potential to surpass present limit that reality denies. In all great works of fiction, regardless of the grim reality they present there is an affirmation to life against the transience of that life, an essential defiance.

Not only reading and exploring Lolita, in this book you will explore more other classical fictions, you will felt that you are in the class and directly teach by Nafisi. Set up your own background by imagined her mind set. This book also compassion of Nafisi, passed the years under the regime.

Nafisi described be a woman living under the tyrant is like having sex with a man you loathe. It is like if you are forced to having sex with someone you dislike, you make your mind blank, you pretend to be somewhere else, you tend you forget your body, and you hate your body. She created original work on the relationship between life and literature.

I persuade you, to read this book, especially for my female friends, and let us celebrate the liberating power of literature.

Cheers

Detektif Feng Shui


-Kumpulan kisah petualangan detektif-


Karya : Nuri Vittachi
Penerbit : C! Publishing (PT Bentang Pustaka)
Tebal : 378 hal

Bosan membaca karya sastra yang serius dan berat? Mungkin novel yang satu ini bisa menjadi selingan. Gaya bahasanya kocak dan ringan. Membacanya kita akan menemukan banyak kosa kata unik yang lucu dan baru, toh dengan bahasa yang terkesan konyol kisah-kisah yang diceritakan mengandung banyak kebajikan dan pelajaran hidup.

C.F Wong adalah seorang ahli feng shui yang menetap di Singapura, bekerja pada sebuah perusahaan yang memberikan jasa tata letak ruangan atau bangunan dengan perhitungan-perhitungan aliran energi atau biasa di sebut chi. Suatu hari bosnya menitipkan seorang anak dari klien terbesar perusahaan tersebut untuk belajar feng shui bersamanya, dan menjadi assisten bagi Wong. Seorang gadis Amerika, yang harus bekerja dengan seorang Asia dan dengan setting Asia yang kental.

Wong tidak bisa menolak, karena ayah sang gadis adalah klien yang cukup berperan dalam perusahaanya- toh pada akhirnya mereka pun berpartner, menangani order-order penataan ruangan, taman, rumah dan lain-lain.
Joyce McQuinnie, begitu nama gadis Amerika itu, banyak mengajarkan wong kosa kata bahasa Inggris, yang menurut wong aneh.

Dengan keahlian feng shuinya, wong tidak saja memberikan nasehat feng shui, tetapi malah mengungkapkan berbagai kasus kejahatan, pembunuhan dan skandal sebuah perusahaan media. Bagi para penggemar cerita detektif yang biasa membaca karya Agatha Crishti, novel kecil ini bisa dijadikan pilihan lain, dan tidak melulu bermain dengan logika Poarot. Bagi saya yang pernah sedikit belajar tentang ilmu bangunan, logika feng shui cukup masuk akal dan layak di praktekkan untuk keharmonisan bangunan, alam dan manusia.

Dalam novel ini, kita tidak hanya diajak berpetualang, memecahkan misteri-misteri dengan logika feng shui, lebih jauh kita akan disuguhi mutiara-mutiara kebajikan dari timur di padu dengan kisah kocak dan bahasa yang segar, sebuah sketsa lintas budaya yang dikemas dalam bahasa novel detektif yang ringan, cocok di baca di akhir minggu untuk menghilangkan penat setelah satu minggu bekerja. Lagi-lagi sebuah provokasi, untuk anda sekalian membaca sendiri karya ini. Selamat membaca!

“Siapa Suruh Datang Jakarta”

Dari semalam radio butut di kamar kost saya , gencar memberitakan banjir di Ibukota republik ini. Pagi pagi pun berita di RRI pro 3, Trijaya FM dan Eltira masih dengan topik bahasan yang sama, mulai dari transportasi yang lumpuh, istana kepresidenan yang kebanjiran, tinggi muka air di pintu-pintu air terus di pantau dan di beritakan, talk show mulai dari ahli agama, ahli kebijakan, ahli tata bangunan dan ahli-ahli lainya membahas hal yang sama pula (mungkin juga termasuk ahli nujum).

Yang ahli agama bilang sabar…ini adalah ujian dari yang maha kuasa, yang ahli kebijakan bilang ini adalah kesalahan kebijakan, yang ahli bangunan bilang ada kesalahan perencanaan dan kesalahan teknis..opini-opininya malah bikin saya pusing. Menurut saya sih nggak usah banyak komentar deh para ahli itu, lebih bagus bantuin angkat-angkat barang para korban yang kebanjiran, dari pada sekedar talk show. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga radio, hidup dari cuap-cuap, dan saya pun nggak rugi-rugi amat, malah bisa memantau keadaan diluar Jogja sambil sesekali mendengarkan lagu-lagu yang up to date.

Belum lagi menjelang siang di kampus tempat saya belajar, YM bergetar BUZZ!!!…seorang kawan yang pernah jadi boss saya yang sekarang sedang bertugas di Jakarta menyapa (lebih tepat dibilang menggerutu). Dan diskusi via YM pun mengalir, “negara kita memang negara kelas menengah keluhnya, birokratnya kelas menengah, elit politiknya kelas menengah, intelektualnya kelas menengah…” makanya kebijakan yang dibuat juga setengah-setengah, belajar uga setengah-setengah, bekerja juga setengah-setengah begitulah yang saya pahami dari keluh kesahnya. Beberapa ungkapan kekesalan masih muncul dalam box YM saya, dan saya biarkan kawan saya berkeluh kesah tentang republik ini.

Saya menanyakan kabar Jakarta, mengingat berita banjir yang juga membanjiri berbagai media termasuk radio kesayangan saya di Jogja. Alih-alih memberi kabar tentang keadaanya, kawan saya terus mencercau tentang bobroknya negeri kami ini, ya rumah kami ini. Mencoba mencari perbandingan dengan negara tetangga Singapura yang baru dikunjunginya beberapa waktu lalu. Kalau begini memang enak tinggal diluar negri ya…begitu katanya. Nah lho!!!, rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau ya.

Kawan saya ini seorang aktivis atau paling tidak sok aktif lah atau pura-pura aktif (begitu biasa saya menggodanya), saya bisa maklum kalau dia sefrustasi ini. Saya menyarankan untuk meluapkan kemarahanya ke media, “tulis di koran”, saya mencoba memprovokasi, tapi saya tidak menyarankan dia untuk ikutan talk show (he..he..), katanya, berkali-kali dia menulis, tidak juga ada pengaruhnya, tidak ada perbaikan…bla..bla…bla… , chatting berujung pada protesnya akan pemenuhan hak ekosob (ekonomi sosial dan budaya), sebagai bagian dari HAM, aduh “hari gini ngomongin HAM, di republik ini, mimpi kali yee…saya mencoba menimpali (saya juga pura-pura sok intelek ), saya jadi terikut mengomentari keluh kesahnya akan keadaan yang sedang terjadi di Jakarta.

Kebetulan minggu lalu saya menghabiskan waktu seminggu di Jakarta, menengok keluarga besar yang memang sudah menjadi warga Jakarta sejak lama. Lalu gantian saya yang mencercau tentang Jakarta, sungainya dipenuhi sampah yang baunya membuat hilang selera makan, transportasinya yang kacau. Jangankan untuk kaum pendatang, untuk warga Jakarta sendiri saja menurut saya sudah tidak ramah, sama sekali tidak nyaman, dan bikin saya depressi apalagi apabila hendak bepergian. Karena saya harus menggunakan angkutan publik (maklum ekonomi lemah dan tidak punya mobil sendiri). Boleh percaya atau tidak, saya bisa mendadak sakit perut bila hendak bepergian di Jakarta, membayangkan macetnya, membayangkan bau selokan dan sungai-sungai yang ditimbuni sampah, membayangkan berlari-lari mengejar bis tetapi tetap harus berdiri juga karena bis yang penuh sesak, atau harus olah raga jantung bila harus naik metro mini yang supirnya ugal-ugalan…kata teman saya yang seorang psikolog ini namanya psikosomatis.

Kok bisa ya..kota yang sangat tidak ramah ini terus dibanjiri kaum urban yang hendak mengadu untung. Padahal lebih banyak “buntung” dari pada untung yang diraih. Menjadi PRT, PKL, PSK, mengamen dengan alat musik dan suara pas-pasan, tinggal di bantaran sungai atau sepanjang bantaran rel kereta mungkin dianggap lebih nyaman dibandingkan harus mencangkul dan menunggu hasil panen (yang kemungkinan panen berhasil juga tidak bisa dijamin).Atau tempat asalpun sudah tidak menjanjikan kesejahteraan bagi mereka, mungkin kota asalnya justru lebih kejam dari pada ibukota, entahlah saya lelah memikirkanya…

Saya pamit kepada kawan saya, untuk sign out karena masih ada yang harus saya selesaikan dengan para birokrat di kampus. Teman saya menyarankan untuk segera bergegas bila berurusan dengan birokrat, maklum hari jum’at. Mereka biasa memakai alasan “jumat” untuk tidak melayani mahasiswa dengan maksimal (Oh…Indonesia…Indonesia…kapan berubah??)

Kembali ke kamar sewa, sayup-sayup suara dari radio masih memeberitakan banjir, yang katanya sudah merangsak ke jalan-jalan protokol ibukota (rupanya saya lupa mematikan radio tadi pagi). Duh….susahnya jadi orang Jakarta.

Untuk Cahaya_ Matajalan, Siapa Suruh datang Jakarta….Lets go home!!

Yogyakarta, 2 Februari 2002

Don’t Judge a Book by its Cover

Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya, begitulah kira-kira terjemahan bebas dari judul diatas. Ungkapan tersebut sudah lama saya dengar, sama dengan cara kita menilai seseorang, buku juga tidak hanya bisa dilihat dari tampang luarnya saja, isi mungkin lebih penting dari sampulnya.

Akan tetapi bagi saya, sampul buku tidak dapat dipisahkan dari sebuah karya tulis menulis secara keseluruhan, karena design sampul itu sendiri adalah sebuah karya yang juga patut dihargai. Saya selalu tertarik dengan sampul buku yang gambarnya bagus dan buru-buru saya buka halaman yang menyebutkan sang designer sampulnya. Bagaimana mereka bisa menuangkan isi cerita buku tersebut dalam satu lembar sampul. Lihatlah contoh-contoh sampul buku ini. Bukankan sebuah karya yang luar biasa?


Makanya saya agak kurang sependapat dengan ungkapan diatas, Cover sangat penting, apalagi karya-karya sastra atau buku-buku umum. Sampul harus mampu menggelitik daya imajinasi kita untuk membayangkan isi dari sebuah buku. Buku-buku yang bagus harus ditunjang oleh design sampul yang bagus, agar karyanya mejadi lebih sempurna. Meskipun banyak juga sampul yang menipu, yang tidak sebagus isinya.

Menghargai sebuah karya tulis adalah menghargai sebuag kerja invisible team, menghargai kerja editor, penyunting, designer sampul, penerbit, penterjemah dan tentu sang penulis sendiri.
Masih agak sulit bagi kita untuk memberi penghargaan akan karya-karya tulis. Kita tinggal dalam negara yang carut marut oleh berbagai permasalahan ekonomi, bencana, dan pertarungan politik yang bagai tiada akhir. Alih-alih mempromosikan budaya membaca dan menulis, harga buku yang berkualitas semakin tidak tejangkau oleh kebanyakan penduduk. Sehingga pembajakan buku pun menjadi bisnis yang lebih menguntungkan pembajak sekaligus meringankan para pembeli, siapa yang hendak disalahkan? Jangankan membeli buku, buat makan saja masih harus berfikir. Bagaimana mau mengekspresikan ide dalam tulisan, bila masih disibukan dengan urusan banjir, hutang, spp anak-anak yang belum terbayar yang juga butuh pemikiran daripada sekedar menuangkanya dalam ekspresi tulis, sedang perpustakaan umum tidak bisa menjadi alternatif sebagai lokasi yang layak dikunjungi, kecuali bagi para kutu buku..yang haus ilmu yang murah meriah..duh

Akan tetapi skeptisme pun tidak akan menyelesaikan masalah, kenapa tidak kita mulai dari, mencintai karya-karya orang-orang hebat yang mampu menuangkan imajinasi, ide, dan berbagi ilmunya melalui buku, lebih bagus lagi mencoba berbagi seperti mereka, saya teringat akan Pramoedya Ananta Toer, katanya “ Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama dia tidak menulis, dia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

So..Dont judge books on your “koper” (baca: jangan hukum buku di dalam koper anda) artinya buku jangan cuma disimpan dalam koper, hargailah mereka dengan membacanya :-p, dan mulailah menulis..
Wassalam

Thursday, January 18, 2007

Saudagar Buku Dari Kabul


-International Best Seller-

Novel Karya : Åsne Seirstad
Penerbit : qanita , Bandung
Tebal : 463 halaman



Sekali lagi saya suguhkan resensi sebuah novel yang mengambil seting Afghanistan. Bagi saya ini adalah sebuah reportase yang “unik” dan “renyah” (saya tidak menemukan bahasa yang tepat untuk mengambarkanya), ditulis oleh seorang wartawan Norwegia yang terlibat dalam cerita-cerita didalam novel ini, akan tetapi dia sendiri berada diluar cerita. Lucu, sedih, menggeramkan disusun selang-seling menambah selera membaca kita. Bukan sekedar drama keluarga ini adalah juga kisah sejarah, kisah tentang rezim-rezim yang berkuasa di sebuah negeri yang tak pernah reda oleh perang, sebuah negeri yang oleh Amerika di bubuhi stempel tebal “sarang terorris”.

Tersebulah sebuah keluarga Afghan di Kabul, Sultan Khan sang kepala keluarga. Dia anak laki-laki pertama dalam keluarganya. Sebagaimana budaya yang berlaku anak laki-laki adalah kebanggan. Jadi meskipun keluarganya miskin, Sultan menyelesaikan pendidikan sebagai Insinyur, sementara saudara-saudara perempuan lainya harus merelakan menjadi buta huruf demi anak laki-laki.

Sultan meskipun seorang Insinyur teknik, dia lebih mencintai buku, kecintaanya akan buku mendorongnya untuk membangun bisnis buku. Ini adalah bisnis tidak lazim bagi negara yang pada saat itu ¾ penduduknya buta huruf. Sultan mempunyai misi yang sangat kuat akan bangkitnya peradaban Afghan melalui kebudayaan dan kesusastraan negerinya.

Beberapa kali koleksi bukunya dibakar oleh rezim yang berbeda-beda, Mula-mula komunis membakar koleksi bukunya, kemudia Mujahiddin menjarah dan merampasnya lalu Taliban membakarnya lagi. Dia harus pula berurusan dengan departemen pembinaan kebajikan dan penghapusan dosa (sebuah departemen dengan nama yang aneh menurut saya) untuk bisnis yang dilakukanya. Rezim Taliban sangat mengharamkan buku-buku yang memuat gambar makhluk hidup – itu adalah perbuatan anti Islam- Sultan di penjara, di intograsi, dan menyaksikan bukunya di bakar oleh tentara yang membaca saja pun tidak bisa. Tetapi dia tidak peduli, berbagai cara dia lakukan untuk menyelamatkan bisnisnya-bukunya dan juga sejarah Afghanistan.

Diluar itu Sultan adalah, lelaki Afghanistan, yang tumbuh dan besar dalam kultur Islam yang kuat. Meskipun dia tidak melakukan kewajiban-kewajiban ibadah Islam secara rutin. Pikiranya yang moderat tidak berlaku bagi keluarganya. Anak-anaknya tidak diperkenankan melanjutkan sekolah karena harus membantunya dalam bisnis bukunya. Para perempuan tinggal dirumah, melayani laki-laki yang seharian bekerja, mengurus anak-anak dan selalu disalahkan apabila ada yang tidak berkenan di hati para lelaki.
Ketika dirasakan istrinya sudah mulai berumur Sultan menikah lagi dengan gadis belia, Seirstad menceritakan dengan ringan proses peminangan Sultan yang “tidak lazim” sampai dengan pesta pernikahan mereka, juga perasaan-perasaan istri pertamanya . Sultan mempunyai dua orang istri dengan empat orang anak dari keduanya dan tingal dalam satu rumah. Dalam keluarga itu juga tinggal ibu dan saudara-saudara perempuan Sultan. Karena dia laki-laki paling tua dan tiada lagi ayahnya maka ia adalah raja dalam keluaganya, perkataanya layaknya hukum dan tidak bisa di bantah.

Ini adalah potret buram kaum perempuan dalam peradaban yang di klaim sebagai peradaban “Islam” oleh para penguasanya. Perempuan tidak mempunyai hak untuk membuat keputusan tentang masa depanya – masa depan adalah pernikahan dengan laki-laki yang sudah menjadi kesepakatan keluarganya. Martabatnya hanya akan terangkat bila mereka menikah dengan laki-laki terhormat dan melahirkan anak laki-laki, selebihnya hidupnya hanyalah melayani kaum lelaki.

Latar belakang lainya yang juga turut mendukung cerita ini adalah perang yang sepertinya tiada pernah usai. Perang dan perang itulah hari-hari Afghanistan, bocah-bocah lebih mengenal Kalashnikov daripada permainan anak-anak seusianya. Negeri yang selalu bergulat dengan kemiskinan dan paska September 11 menjadi musuh Amerika, meski sebagian dari mereka tidak tau sebabnya.

Tulisan saya ini tidaklah cukup untuk menggambarkan semua kisah yang ada dalam novel Seirstad, untuk lebih merangsang anda sekalian membacanya senidiri dan terlibat langsung dalam sebuah petualangan dan kehidupan keluarga Afghanistan. Kegetiran – Kemiskinan – Penindasan terhadap perempuan di sebuah zaman yang serba global ini.

Yogyakarta, 19 Januari 2007

Sunday, December 17, 2006

“Click!” And Lets Go Beyond the Boundaries

“by dint of meaning, information and transparence our society have passed beyond the limit point, that of permanent ectasy of the social (the masses), the body (obesity), sex (obscenity), violence (terror), and information (simulation)” (Jean Baudriallard, The Ectasy of communication, 1987)


Internet sudah bukan menjadi barang asing lagi diantara kita. Temuan teknologi terkini tersebut telah merambah ke seantero dunia dengan cepat dan mempengaruhi kehidupan kita. Melalui internet dengan dunia cyber nya (cyberspace) bisa dikatakan bahwa manusia telah sampai pada sebuah penjelajahan global melampaui batas-batas yang tidak mungkin dilakukan pada abad sebelumnya. Internet dewasa ini dianggap sebagai penyelesaian masalah terhadap segala keterbatasan manusia untuk mengembara dalam berbagai bentuk realitas tanpa batas (Astar Hadi:2005:4)
Dunia cyber menjadi dunia baru layaknya dalam kehidupan nyata menawarkan hal-hal yang bisa dilakukan pada dunia nyata. Mulai dari chatting, conference, berbelanja bahkan mencari jodoh bisa dilakukan di dunia maya ini. Hanya dengan “click” kita diajak untuk memasuki “ruang” dimana kita bisa mencari apa saja yang kita inginkan, memasuki komunitas yang memiliki minat yang sama dengan kita, atau malah menbentuk komunitas baru sesuai dengan keinginan kita tidak dibatasi oleh jarak dan waktu yang di sebut oleh Mc Luhan sebagai “Global Village”.
Cyberspace sebagai bentuk jaringan komunikasi dan interaksi global (Astar hadi: 2005:7) dengan bangga menawarkan system nilai dan bentuk komunitas sendiri, yaitu yang disebut komunitas virtual.

Menurut Yasraf Amir Piliang bahwasanya dalam era globalisasi dan abad virtual dewasa ini, banyak konsep sosial seperti integrasi, kesatuan, persatuan, nasionalisme dan solidaritas menjadi semakin kehilangan realitas sosialnya dan akhirnya menjadi mitos, dan menggiring masyarakat global kearah akhir sosial (Piliang : 2004:133).

Internet sebagai media komunikasi massa
Lebih dari setengah abad kebelakang, Amerika Serikat dan Negara-negara ekonomi maju secara gradual telah membuat perubahan kedalam apa yang biasanya disebut masyarakat informasi “era informasi” (Fukuyama: 2000). Dan keberadaan internet sebagai salah satu media masa yang bertujuan memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada khalayak.
Kita sedang berada pada sirkuit dimana kita dituntut untuk berpacu menerima dan mereproduksi informasi-informasi baru. Sehingga sangat sulit lagi di bedakan mana informasi-informasi yang asli dan mana yang salinan. Hampir tidak ada lagi originalitas sebuah informasi. Dengan jaringan kerja yang begitu luas dan kemampuan akses yang cepat dengan jarak yang luas teknologi ini menawarkan sisi lain dari komunikasi yang mendunia. Sekali lagi dengan “click” kita bisa mengirmkan, mengkopi atau mendownload informasi bersamaan dengan munculnya informasi itu sendiri. Berita tentang polygami aa Gym membajiri milis setiap komunitas dunia maya, didiskusikan, tafsir-tafsir ayat tentang ploigami segera bereadar di seantero Indonesia bahkan oleh komunitas Indonesia di luar negeri pada saat bersamaan si aa Gym mengeluarkan statementnya.

Terperangkap dalam realitas yang semu
Di dalam dunia virtual ini kita mendapatkan pengalaman luar biasa yang mungkin tidak dapat kita temui pada dunia nyata. Dunia ini bukanlah seperti ruang dalam arti sesungguhnya, melainkan sebuah metafora , sebuah “ruang simbolis” yang menjadi ruang jutaan manusia tidak dalam pengertian fisik. Sebagai contoh apabila kita bekomunikasi melalu chatting di internet di mana orang-orang akan bertemu dalam “ruang simbolis” yang memungkinkan kita berbagi informasi dan berinteraksi dengan keterlibatan emosi sebagaimana di dalam ruang sesungguhnya. Perasaan kita bisa tergantikan oleh ikon-ikon yang tersedia pada ruang chatting seolah–olah kita sedang mengekspresikanya secara langsung. Tertawa, menangis, sedih dan marah bisa terwakilkan oleh smiles pada ikon-ikon yang sudah tersedia tersebut.
Kita diajak untuk mendapatkan pengalaman lain mengembara dalam realitas tanpa batas, tidak hanya melihat gambar visual, lebih jauh lagi merasakan pengalaman yang sangat kompleks, dan hebatnya semua dapat kita lakukan tanpa beranjak dari tempat duduk kita. Cukup “click” saja.

Mengutip pernyataan Paul Virrilio dalam the Aesthetics of Disappearances, untuk”..menjadikan sesuatu yang supernatural, imajiner, bahkan yang tidak masuk akal menjadi tampak sebagai realitas (Astar Hadi: 2005:19). Kita telah banyak di manipulasi oleh image semu yang nyata. Virtualisasi media ini telah mampu mensimulasi berbagai bentuk realitas dalam ruang-ruang maya (Piliang:2001:179) di mana dalam sifat virtualitas media elektronika realitas bisa dikonstruksikan atau di rekonstruksi Inilah yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagi hiperreality untuk menjelaskan rekayasa makna dalam media.
Interaksi dalam realitas semu pada akhirnya mempengaruhi kehidupan kita. Nilai-nilai sosial yang lebih banyak menuntut norma, toleransi dsb mulai luntur mulai dan tidak populer. Keasyikkan bercyber dalam dunia maya telah mengurangi waktu untuk berinteraksi dengan orang lain dalam arti yang sebenarnya. Jarak hanya sejauh jangkauan jari telunjuk kita untuk meng click mouse. Dan kita terjebak dalam realitas semu yang kita sendiri menikmatinya.

Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi yang telah membawa kita pada “dunia global” dibanyak sisi mendatangkan manfaat. Sebagai contoh informasi tentang ilmu pengetahuan dapat dengan mudah kita akses tanpa perlu tergantung pada guru atau seseorang untuk memberikan penjelasan. Disisi lain banyak nilai-nilai humanis mulai hilang, interaksi yang menjadi syarat dalam kehidupan sosial telah mengalami erosi. Kita telah dipaksa untuk merekonstrusi definisi-definisi kehidupan sosial yang telah dijungkir balikkan oleh kehidupan sosial lain dalam dunia nyata yang semu. Pada akhirnya apakah kita akan bertahan atau terbawa ke dalam rimba raya, itu menjadi pilihan kita. Sangat diperlukan kearifan dan pemahaman untuk menghindari hancurnya tatanan sosial, sebagaimana di ramalkan oleh Francis Fukuyama perubahan – perubahan yang dramastis memunculkan “Great Distruption” (Fukuyama:2002)

Yogyakarta 18 Desember 2006

Rujukan
Fukuyama, Francis.2002. “The Great Disruption, Hakikat Manusia Dan Rekonstruksi Tatanan Sosial”. Yogyakarta :Qalam
Hadi, Astar. 2005. “Cyberspace, Kritik Humanis Mark Slouka Terhadap Jagat Maya”. Yogyakarta : LKIS
Ibrahim, Idi Subandy (editor).2004. “Lifestyle Ecstay, Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komoditas Indonesia”. Yogyakarta :Jalasutra 2004
Piliang, Yasraf Amir. 2004. “Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampai Batas-Batas Kebudayaan”. Yogyakarta :Jalasutra

Sunday, December 10, 2006

Samira dan Samir



Sebuah novel karya Siba Shakib
Penerbit Alvabet Jakarta
Tebal : viii+363


- Resensi ini sebagai hadiah untuk ummu Safin-

Terlahir sebagai “Samira” (perempuan), ayahnya salah satu kepala suku di pegunungan Hindu Kush di Afganistan merasa sangat kecewa. Sebagai seorang “komandan” istrinya harus mampu melahirkan anak laki-laki agar menjadikanya pria dan pemimpin sejati. Samira kemudian didiknya menjadi “Samir”- agar kelak menjadi seperti dirinya. Dan rahasia ini harus tetap terjaga agar dia sebagai pemimpin tetap dihargai karena telah memilki putra.

Samira yang Samir tumbuh cerdas dan tangkas, sampai suatu ketika di masa kanak-kanaknya dia menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirinya, dia dibingungkan oleh makna “laki-laki sejati” definisi sang ayah tidak cukup memuaskan jawabanya, bertanyalah sang bocah kepada sang Ibu. Sang Ibu yang dibesarkan dengan tradisi dimana perempuan bukanlah pemberi jawaban atau pembuat keputusan pun tidak mampu memberi jawaban. Samira yang Samir memutuskan untuk menjadi bisu dan tetap tumbuh menjadi Samir. Samira tahu bahwa dia harus membahagiakan ayahnya dan ayahnya dan itu adalah jika dia menajdi Samir.

Waktu berlalu, musim berganti dan perang tetap terjadi di Afganistan, di pegunungan Hindu Kush. Novel ini yang mengambil setting masyarakat nomaden di pegunungan Hindu Kush, dengan keganasan perang , dan dengan pemikiran orang-orang nya tentang definisi “perempuan” dan “laki-laki”. Dengan bahasa yang runtun dan Indah dan agak radikal Siba Shakib telah mampu membawa saya seperti menyaksikan sebuah film nyata.

Sang komandan syahid di medan perang, beban bertambah berat ketika suatu malam sekelompok orang menodai kehormatan sang ibu dan memaksa Samir menjadi pembunuh mereka dan ibunya kehilangan akal sehatnya. Kehidupan telah membawa Samir yang Samira melihat banyak hal dan mempertanyakan banyak hal. Karena ia telah mengakhiri kebisuanya.
Sampa pada suatu hari kakeknya membawanya kepada seorang guru, dimana Samir belajar membaca dan menulis dan mengetahui, bahwa dunia lebih luas dari yang ia saksikan. Dan bagaimana wanita menjadi tetap tertindaskan. Dan ilmu pengetahuanpun tidak mampu memberikan kemerdekaan.

Bukan saja alur cerita yang menarik Samir talah membuka kita bagaimana perempuan tertindaskan oleh hegemoni definisi laki-laki dan perempuan pada masyarakat Hindu Kush pada saat itu. Dunia yang di bangun bahwa laki-laki lah yang punya hak untuk merdeka dan berhak mengambil kemerdekaan perempuan.

Samira yang Samir tumbuh dan terus tumbuh, dengan ketangkasanya sebagai pemuda sejati dan dengan kelembutan hatinya sebagai wanita. Dia menjadi bimbang ketika perasaan-perasaan sebagai manusia dewasa mulai tumbuh dalam dirinya, apakah dia Samir atau Samira dan ketika dia menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Bashir teman kecilnya, akan tetapi karena dia seorang pemuda dia telah diminta menikahi Gol Sar yang saudara perempuan Bashir. Siba menceritakan dengan indah membawa pembacanya kedalam setting yang telah dia tentukan, menyaksikan pergulatan hati nurani, perjuangan dan kepiluan yang menyayat. Ada cerita dalam cerita sebagai bumbu dalam novel ini dan semakin menambah keasyikan sendiri dalam membacanya.
Sekali lagi saya belajar tetntang apa itu penindasan, kemerdekaan, cinta, kebahagian dan perjuangan. Sebuah novel yang sangat layak dibaca oleh yang mengaku sebagai perempuan atau laki-laki sejati.

-Selamat Membaca-