Dari semalam radio butut di kamar kost saya , gencar memberitakan banjir di Ibukota republik ini. Pagi pagi pun berita di RRI pro 3, Trijaya FM dan Eltira masih dengan topik bahasan yang sama, mulai dari transportasi yang lumpuh, istana kepresidenan yang kebanjiran, tinggi muka air di pintu-pintu air terus di pantau dan di beritakan, talk show mulai dari ahli agama, ahli kebijakan, ahli tata bangunan dan ahli-ahli lainya membahas hal yang sama pula (mungkin juga termasuk ahli nujum).
Yang ahli agama bilang sabar…ini adalah ujian dari yang maha kuasa, yang ahli kebijakan bilang ini adalah kesalahan kebijakan, yang ahli bangunan bilang ada kesalahan perencanaan dan kesalahan teknis..opini-opininya malah bikin saya pusing. Menurut saya sih nggak usah banyak komentar deh para ahli itu, lebih bagus bantuin angkat-angkat barang para korban yang kebanjiran, dari pada sekedar talk show. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga radio, hidup dari cuap-cuap, dan saya pun nggak rugi-rugi amat, malah bisa memantau keadaan diluar Jogja sambil sesekali mendengarkan lagu-lagu yang up to date.
Belum lagi menjelang siang di kampus tempat saya belajar, YM bergetar BUZZ!!!…seorang kawan yang pernah jadi boss saya yang sekarang sedang bertugas di Jakarta menyapa (lebih tepat dibilang menggerutu). Dan diskusi via YM pun mengalir, “negara kita memang negara kelas menengah keluhnya, birokratnya kelas menengah, elit politiknya kelas menengah, intelektualnya kelas menengah…” makanya kebijakan yang dibuat juga setengah-setengah, belajar uga setengah-setengah, bekerja juga setengah-setengah begitulah yang saya pahami dari keluh kesahnya. Beberapa ungkapan kekesalan masih muncul dalam box YM saya, dan saya biarkan kawan saya berkeluh kesah tentang republik ini.
Saya menanyakan kabar Jakarta, mengingat berita banjir yang juga membanjiri berbagai media termasuk radio kesayangan saya di Jogja. Alih-alih memberi kabar tentang keadaanya, kawan saya terus mencercau tentang bobroknya negeri kami ini, ya rumah kami ini. Mencoba mencari perbandingan dengan negara tetangga Singapura yang baru dikunjunginya beberapa waktu lalu. Kalau begini memang enak tinggal diluar negri ya…begitu katanya. Nah lho!!!, rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau ya.
Kawan saya ini seorang aktivis atau paling tidak sok aktif lah atau pura-pura aktif (begitu biasa saya menggodanya), saya bisa maklum kalau dia sefrustasi ini. Saya menyarankan untuk meluapkan kemarahanya ke media, “tulis di koran”, saya mencoba memprovokasi, tapi saya tidak menyarankan dia untuk ikutan talk show (he..he..), katanya, berkali-kali dia menulis, tidak juga ada pengaruhnya, tidak ada perbaikan…bla..bla…bla… , chatting berujung pada protesnya akan pemenuhan hak ekosob (ekonomi sosial dan budaya), sebagai bagian dari HAM, aduh “hari gini ngomongin HAM, di republik ini, mimpi kali yee…saya mencoba menimpali (saya juga pura-pura sok intelek ), saya jadi terikut mengomentari keluh kesahnya akan keadaan yang sedang terjadi di Jakarta.
Kebetulan minggu lalu saya menghabiskan waktu seminggu di Jakarta, menengok keluarga besar yang memang sudah menjadi warga Jakarta sejak lama. Lalu gantian saya yang mencercau tentang Jakarta, sungainya dipenuhi sampah yang baunya membuat hilang selera makan, transportasinya yang kacau. Jangankan untuk kaum pendatang, untuk warga Jakarta sendiri saja menurut saya sudah tidak ramah, sama sekali tidak nyaman, dan bikin saya depressi apalagi apabila hendak bepergian. Karena saya harus menggunakan angkutan publik (maklum ekonomi lemah dan tidak punya mobil sendiri). Boleh percaya atau tidak, saya bisa mendadak sakit perut bila hendak bepergian di Jakarta, membayangkan macetnya, membayangkan bau selokan dan sungai-sungai yang ditimbuni sampah, membayangkan berlari-lari mengejar bis tetapi tetap harus berdiri juga karena bis yang penuh sesak, atau harus olah raga jantung bila harus naik metro mini yang supirnya ugal-ugalan…kata teman saya yang seorang psikolog ini namanya psikosomatis.
Kok bisa ya..kota yang sangat tidak ramah ini terus dibanjiri kaum urban yang hendak mengadu untung. Padahal lebih banyak “buntung” dari pada untung yang diraih. Menjadi PRT, PKL, PSK, mengamen dengan alat musik dan suara pas-pasan, tinggal di bantaran sungai atau sepanjang bantaran rel kereta mungkin dianggap lebih nyaman dibandingkan harus mencangkul dan menunggu hasil panen (yang kemungkinan panen berhasil juga tidak bisa dijamin).Atau tempat asalpun sudah tidak menjanjikan kesejahteraan bagi mereka, mungkin kota asalnya justru lebih kejam dari pada ibukota, entahlah saya lelah memikirkanya…
Saya pamit kepada kawan saya, untuk sign out karena masih ada yang harus saya selesaikan dengan para birokrat di kampus. Teman saya menyarankan untuk segera bergegas bila berurusan dengan birokrat, maklum hari jum’at. Mereka biasa memakai alasan “jumat” untuk tidak melayani mahasiswa dengan maksimal (Oh…Indonesia…Indonesia…kapan berubah??)
Kembali ke kamar sewa, sayup-sayup suara dari radio masih memeberitakan banjir, yang katanya sudah merangsak ke jalan-jalan protokol ibukota (rupanya saya lupa mematikan radio tadi pagi). Duh….susahnya jadi orang Jakarta.
Untuk Cahaya_ Matajalan, Siapa Suruh datang Jakarta….Lets go home!!
Yogyakarta, 2 Februari 2002
Saturday, February 3, 2007
Don’t Judge a Book by its Cover
Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya, begitulah kira-kira terjemahan bebas dari judul diatas. Ungkapan tersebut sudah lama saya dengar, sama dengan cara kita menilai seseorang, buku juga tidak hanya bisa dilihat dari tampang luarnya saja, isi mungkin lebih penting dari sampulnya.
Akan tetapi bagi saya, sampul buku tidak dapat dipisahkan dari sebuah karya tulis menulis secara keseluruhan, karena design sampul itu sendiri adalah sebuah karya yang juga patut dihargai. Saya selalu tertarik dengan sampul buku yang gambarnya bagus dan buru-buru saya buka halaman yang menyebutkan sang designer sampulnya. Bagaimana mereka bisa menuangkan isi cerita buku tersebut dalam satu lembar sampul. Lihatlah contoh-contoh sampul buku ini. Bukankan sebuah karya yang luar biasa?

Makanya saya agak kurang sependapat dengan ungkapan diatas, Cover sangat penting, apalagi karya-karya sastra atau buku-buku umum. Sampul harus mampu menggelitik daya imajinasi kita untuk membayangkan isi dari sebuah buku. Buku-buku yang bagus harus ditunjang oleh design sampul yang bagus, agar karyanya mejadi lebih sempurna. Meskipun banyak juga sampul yang menipu, yang tidak sebagus isinya.
Menghargai sebuah karya tulis adalah menghargai sebuag kerja invisible team, menghargai kerja editor, penyunting, designer sampul, penerbit, penterjemah dan tentu sang penulis sendiri.
Masih agak sulit bagi kita untuk memberi penghargaan akan karya-karya tulis. Kita tinggal dalam negara yang carut marut oleh berbagai permasalahan ekonomi, bencana, dan pertarungan politik yang bagai tiada akhir. Alih-alih mempromosikan budaya membaca dan menulis, harga buku yang berkualitas semakin tidak tejangkau oleh kebanyakan penduduk. Sehingga pembajakan buku pun menjadi bisnis yang lebih menguntungkan pembajak sekaligus meringankan para pembeli, siapa yang hendak disalahkan? Jangankan membeli buku, buat makan saja masih harus berfikir. Bagaimana mau mengekspresikan ide dalam tulisan, bila masih disibukan dengan urusan banjir, hutang, spp anak-anak yang belum terbayar yang juga butuh pemikiran daripada sekedar menuangkanya dalam ekspresi tulis, sedang perpustakaan umum tidak bisa menjadi alternatif sebagai lokasi yang layak dikunjungi, kecuali bagi para kutu buku..yang haus ilmu yang murah meriah..duh
Akan tetapi skeptisme pun tidak akan menyelesaikan masalah, kenapa tidak kita mulai dari, mencintai karya-karya orang-orang hebat yang mampu menuangkan imajinasi, ide, dan berbagi ilmunya melalui buku, lebih bagus lagi mencoba berbagi seperti mereka, saya teringat akan Pramoedya Ananta Toer, katanya “ Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama dia tidak menulis, dia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadian”.
So..Dont judge books on your “koper” (baca: jangan hukum buku di dalam koper anda) artinya buku jangan cuma disimpan dalam koper, hargailah mereka dengan membacanya :-p, dan mulailah menulis..
Wassalam
Akan tetapi bagi saya, sampul buku tidak dapat dipisahkan dari sebuah karya tulis menulis secara keseluruhan, karena design sampul itu sendiri adalah sebuah karya yang juga patut dihargai. Saya selalu tertarik dengan sampul buku yang gambarnya bagus dan buru-buru saya buka halaman yang menyebutkan sang designer sampulnya. Bagaimana mereka bisa menuangkan isi cerita buku tersebut dalam satu lembar sampul. Lihatlah contoh-contoh sampul buku ini. Bukankan sebuah karya yang luar biasa?
Makanya saya agak kurang sependapat dengan ungkapan diatas, Cover sangat penting, apalagi karya-karya sastra atau buku-buku umum. Sampul harus mampu menggelitik daya imajinasi kita untuk membayangkan isi dari sebuah buku. Buku-buku yang bagus harus ditunjang oleh design sampul yang bagus, agar karyanya mejadi lebih sempurna. Meskipun banyak juga sampul yang menipu, yang tidak sebagus isinya.
Menghargai sebuah karya tulis adalah menghargai sebuag kerja invisible team, menghargai kerja editor, penyunting, designer sampul, penerbit, penterjemah dan tentu sang penulis sendiri.
Masih agak sulit bagi kita untuk memberi penghargaan akan karya-karya tulis. Kita tinggal dalam negara yang carut marut oleh berbagai permasalahan ekonomi, bencana, dan pertarungan politik yang bagai tiada akhir. Alih-alih mempromosikan budaya membaca dan menulis, harga buku yang berkualitas semakin tidak tejangkau oleh kebanyakan penduduk. Sehingga pembajakan buku pun menjadi bisnis yang lebih menguntungkan pembajak sekaligus meringankan para pembeli, siapa yang hendak disalahkan? Jangankan membeli buku, buat makan saja masih harus berfikir. Bagaimana mau mengekspresikan ide dalam tulisan, bila masih disibukan dengan urusan banjir, hutang, spp anak-anak yang belum terbayar yang juga butuh pemikiran daripada sekedar menuangkanya dalam ekspresi tulis, sedang perpustakaan umum tidak bisa menjadi alternatif sebagai lokasi yang layak dikunjungi, kecuali bagi para kutu buku..yang haus ilmu yang murah meriah..duh
Akan tetapi skeptisme pun tidak akan menyelesaikan masalah, kenapa tidak kita mulai dari, mencintai karya-karya orang-orang hebat yang mampu menuangkan imajinasi, ide, dan berbagi ilmunya melalui buku, lebih bagus lagi mencoba berbagi seperti mereka, saya teringat akan Pramoedya Ananta Toer, katanya “ Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama dia tidak menulis, dia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadian”.
So..Dont judge books on your “koper” (baca: jangan hukum buku di dalam koper anda) artinya buku jangan cuma disimpan dalam koper, hargailah mereka dengan membacanya :-p, dan mulailah menulis..
Wassalam
Thursday, January 18, 2007
Saudagar Buku Dari Kabul
-International Best Seller-
Novel Karya : Åsne Seirstad
Penerbit : qanita , Bandung
Tebal : 463 halaman
Sekali lagi saya suguhkan resensi sebuah novel yang mengambil seting Afghanistan. Bagi saya ini adalah sebuah reportase yang “unik” dan “renyah” (saya tidak menemukan bahasa yang tepat untuk mengambarkanya), ditulis oleh seorang wartawan Norwegia yang terlibat dalam cerita-cerita didalam novel ini, akan tetapi dia sendiri berada diluar cerita. Lucu, sedih, menggeramkan disusun selang-seling menambah selera membaca kita. Bukan sekedar drama keluarga ini adalah juga kisah sejarah, kisah tentang rezim-rezim yang berkuasa di sebuah negeri yang tak pernah reda oleh perang, sebuah negeri yang oleh Amerika di bubuhi stempel tebal “sarang terorris”.
Tersebulah sebuah keluarga Afghan di Kabul, Sultan Khan sang kepala keluarga. Dia anak laki-laki pertama dalam keluarganya. Sebagaimana budaya yang berlaku anak laki-laki adalah kebanggan. Jadi meskipun keluarganya miskin, Sultan menyelesaikan pendidikan sebagai Insinyur, sementara saudara-saudara perempuan lainya harus merelakan menjadi buta huruf demi anak laki-laki.
Sultan meskipun seorang Insinyur teknik, dia lebih mencintai buku, kecintaanya akan buku mendorongnya untuk membangun bisnis buku. Ini adalah bisnis tidak lazim bagi negara yang pada saat itu ¾ penduduknya buta huruf. Sultan mempunyai misi yang sangat kuat akan bangkitnya peradaban Afghan melalui kebudayaan dan kesusastraan negerinya.
Beberapa kali koleksi bukunya dibakar oleh rezim yang berbeda-beda, Mula-mula komunis membakar koleksi bukunya, kemudia Mujahiddin menjarah dan merampasnya lalu Taliban membakarnya lagi. Dia harus pula berurusan dengan departemen pembinaan kebajikan dan penghapusan dosa (sebuah departemen dengan nama yang aneh menurut saya) untuk bisnis yang dilakukanya. Rezim Taliban sangat mengharamkan buku-buku yang memuat gambar makhluk hidup – itu adalah perbuatan anti Islam- Sultan di penjara, di intograsi, dan menyaksikan bukunya di bakar oleh tentara yang membaca saja pun tidak bisa. Tetapi dia tidak peduli, berbagai cara dia lakukan untuk menyelamatkan bisnisnya-bukunya dan juga sejarah Afghanistan.
Diluar itu Sultan adalah, lelaki Afghanistan, yang tumbuh dan besar dalam kultur Islam yang kuat. Meskipun dia tidak melakukan kewajiban-kewajiban ibadah Islam secara rutin. Pikiranya yang moderat tidak berlaku bagi keluarganya. Anak-anaknya tidak diperkenankan melanjutkan sekolah karena harus membantunya dalam bisnis bukunya. Para perempuan tinggal dirumah, melayani laki-laki yang seharian bekerja, mengurus anak-anak dan selalu disalahkan apabila ada yang tidak berkenan di hati para lelaki.
Ketika dirasakan istrinya sudah mulai berumur Sultan menikah lagi dengan gadis belia, Seirstad menceritakan dengan ringan proses peminangan Sultan yang “tidak lazim” sampai dengan pesta pernikahan mereka, juga perasaan-perasaan istri pertamanya . Sultan mempunyai dua orang istri dengan empat orang anak dari keduanya dan tingal dalam satu rumah. Dalam keluarga itu juga tinggal ibu dan saudara-saudara perempuan Sultan. Karena dia laki-laki paling tua dan tiada lagi ayahnya maka ia adalah raja dalam keluaganya, perkataanya layaknya hukum dan tidak bisa di bantah.
Ini adalah potret buram kaum perempuan dalam peradaban yang di klaim sebagai peradaban “Islam” oleh para penguasanya. Perempuan tidak mempunyai hak untuk membuat keputusan tentang masa depanya – masa depan adalah pernikahan dengan laki-laki yang sudah menjadi kesepakatan keluarganya. Martabatnya hanya akan terangkat bila mereka menikah dengan laki-laki terhormat dan melahirkan anak laki-laki, selebihnya hidupnya hanyalah melayani kaum lelaki.
Latar belakang lainya yang juga turut mendukung cerita ini adalah perang yang sepertinya tiada pernah usai. Perang dan perang itulah hari-hari Afghanistan, bocah-bocah lebih mengenal Kalashnikov daripada permainan anak-anak seusianya. Negeri yang selalu bergulat dengan kemiskinan dan paska September 11 menjadi musuh Amerika, meski sebagian dari mereka tidak tau sebabnya.
Tulisan saya ini tidaklah cukup untuk menggambarkan semua kisah yang ada dalam novel Seirstad, untuk lebih merangsang anda sekalian membacanya senidiri dan terlibat langsung dalam sebuah petualangan dan kehidupan keluarga Afghanistan. Kegetiran – Kemiskinan – Penindasan terhadap perempuan di sebuah zaman yang serba global ini.
Yogyakarta, 19 Januari 2007
Sunday, December 17, 2006
“Click!” And Lets Go Beyond the Boundaries
“by dint of meaning, information and transparence our society have passed beyond the limit point, that of permanent ectasy of the social (the masses), the body (obesity), sex (obscenity), violence (terror), and information (simulation)” (Jean Baudriallard, The Ectasy of communication, 1987)
Internet sudah bukan menjadi barang asing lagi diantara kita. Temuan teknologi terkini tersebut telah merambah ke seantero dunia dengan cepat dan mempengaruhi kehidupan kita. Melalui internet dengan dunia cyber nya (cyberspace) bisa dikatakan bahwa manusia telah sampai pada sebuah penjelajahan global melampaui batas-batas yang tidak mungkin dilakukan pada abad sebelumnya. Internet dewasa ini dianggap sebagai penyelesaian masalah terhadap segala keterbatasan manusia untuk mengembara dalam berbagai bentuk realitas tanpa batas (Astar Hadi:2005:4)
Dunia cyber menjadi dunia baru layaknya dalam kehidupan nyata menawarkan hal-hal yang bisa dilakukan pada dunia nyata. Mulai dari chatting, conference, berbelanja bahkan mencari jodoh bisa dilakukan di dunia maya ini. Hanya dengan “click” kita diajak untuk memasuki “ruang” dimana kita bisa mencari apa saja yang kita inginkan, memasuki komunitas yang memiliki minat yang sama dengan kita, atau malah menbentuk komunitas baru sesuai dengan keinginan kita tidak dibatasi oleh jarak dan waktu yang di sebut oleh Mc Luhan sebagai “Global Village”.
Cyberspace sebagai bentuk jaringan komunikasi dan interaksi global (Astar hadi: 2005:7) dengan bangga menawarkan system nilai dan bentuk komunitas sendiri, yaitu yang disebut komunitas virtual.
Menurut Yasraf Amir Piliang bahwasanya dalam era globalisasi dan abad virtual dewasa ini, banyak konsep sosial seperti integrasi, kesatuan, persatuan, nasionalisme dan solidaritas menjadi semakin kehilangan realitas sosialnya dan akhirnya menjadi mitos, dan menggiring masyarakat global kearah akhir sosial (Piliang : 2004:133).
Internet sebagai media komunikasi massa
Lebih dari setengah abad kebelakang, Amerika Serikat dan Negara-negara ekonomi maju secara gradual telah membuat perubahan kedalam apa yang biasanya disebut masyarakat informasi “era informasi” (Fukuyama: 2000). Dan keberadaan internet sebagai salah satu media masa yang bertujuan memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada khalayak.
Kita sedang berada pada sirkuit dimana kita dituntut untuk berpacu menerima dan mereproduksi informasi-informasi baru. Sehingga sangat sulit lagi di bedakan mana informasi-informasi yang asli dan mana yang salinan. Hampir tidak ada lagi originalitas sebuah informasi. Dengan jaringan kerja yang begitu luas dan kemampuan akses yang cepat dengan jarak yang luas teknologi ini menawarkan sisi lain dari komunikasi yang mendunia. Sekali lagi dengan “click” kita bisa mengirmkan, mengkopi atau mendownload informasi bersamaan dengan munculnya informasi itu sendiri. Berita tentang polygami aa Gym membajiri milis setiap komunitas dunia maya, didiskusikan, tafsir-tafsir ayat tentang ploigami segera bereadar di seantero Indonesia bahkan oleh komunitas Indonesia di luar negeri pada saat bersamaan si aa Gym mengeluarkan statementnya.
Terperangkap dalam realitas yang semu
Di dalam dunia virtual ini kita mendapatkan pengalaman luar biasa yang mungkin tidak dapat kita temui pada dunia nyata. Dunia ini bukanlah seperti ruang dalam arti sesungguhnya, melainkan sebuah metafora , sebuah “ruang simbolis” yang menjadi ruang jutaan manusia tidak dalam pengertian fisik. Sebagai contoh apabila kita bekomunikasi melalu chatting di internet di mana orang-orang akan bertemu dalam “ruang simbolis” yang memungkinkan kita berbagi informasi dan berinteraksi dengan keterlibatan emosi sebagaimana di dalam ruang sesungguhnya. Perasaan kita bisa tergantikan oleh ikon-ikon yang tersedia pada ruang chatting seolah–olah kita sedang mengekspresikanya secara langsung. Tertawa, menangis, sedih dan marah bisa terwakilkan oleh smiles pada ikon-ikon yang sudah tersedia tersebut.
Kita diajak untuk mendapatkan pengalaman lain mengembara dalam realitas tanpa batas, tidak hanya melihat gambar visual, lebih jauh lagi merasakan pengalaman yang sangat kompleks, dan hebatnya semua dapat kita lakukan tanpa beranjak dari tempat duduk kita. Cukup “click” saja.
Mengutip pernyataan Paul Virrilio dalam the Aesthetics of Disappearances, untuk”..menjadikan sesuatu yang supernatural, imajiner, bahkan yang tidak masuk akal menjadi tampak sebagai realitas (Astar Hadi: 2005:19). Kita telah banyak di manipulasi oleh image semu yang nyata. Virtualisasi media ini telah mampu mensimulasi berbagai bentuk realitas dalam ruang-ruang maya (Piliang:2001:179) di mana dalam sifat virtualitas media elektronika realitas bisa dikonstruksikan atau di rekonstruksi Inilah yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagi hiperreality untuk menjelaskan rekayasa makna dalam media.
Interaksi dalam realitas semu pada akhirnya mempengaruhi kehidupan kita. Nilai-nilai sosial yang lebih banyak menuntut norma, toleransi dsb mulai luntur mulai dan tidak populer. Keasyikkan bercyber dalam dunia maya telah mengurangi waktu untuk berinteraksi dengan orang lain dalam arti yang sebenarnya. Jarak hanya sejauh jangkauan jari telunjuk kita untuk meng click mouse. Dan kita terjebak dalam realitas semu yang kita sendiri menikmatinya.
Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi yang telah membawa kita pada “dunia global” dibanyak sisi mendatangkan manfaat. Sebagai contoh informasi tentang ilmu pengetahuan dapat dengan mudah kita akses tanpa perlu tergantung pada guru atau seseorang untuk memberikan penjelasan. Disisi lain banyak nilai-nilai humanis mulai hilang, interaksi yang menjadi syarat dalam kehidupan sosial telah mengalami erosi. Kita telah dipaksa untuk merekonstrusi definisi-definisi kehidupan sosial yang telah dijungkir balikkan oleh kehidupan sosial lain dalam dunia nyata yang semu. Pada akhirnya apakah kita akan bertahan atau terbawa ke dalam rimba raya, itu menjadi pilihan kita. Sangat diperlukan kearifan dan pemahaman untuk menghindari hancurnya tatanan sosial, sebagaimana di ramalkan oleh Francis Fukuyama perubahan – perubahan yang dramastis memunculkan “Great Distruption” (Fukuyama:2002)
Yogyakarta 18 Desember 2006
Rujukan
Fukuyama, Francis.2002. “The Great Disruption, Hakikat Manusia Dan Rekonstruksi Tatanan Sosial”. Yogyakarta :Qalam
Hadi, Astar. 2005. “Cyberspace, Kritik Humanis Mark Slouka Terhadap Jagat Maya”. Yogyakarta : LKIS
Ibrahim, Idi Subandy (editor).2004. “Lifestyle Ecstay, Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komoditas Indonesia”. Yogyakarta :Jalasutra 2004
Piliang, Yasraf Amir. 2004. “Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampai Batas-Batas Kebudayaan”. Yogyakarta :Jalasutra
Internet sudah bukan menjadi barang asing lagi diantara kita. Temuan teknologi terkini tersebut telah merambah ke seantero dunia dengan cepat dan mempengaruhi kehidupan kita. Melalui internet dengan dunia cyber nya (cyberspace) bisa dikatakan bahwa manusia telah sampai pada sebuah penjelajahan global melampaui batas-batas yang tidak mungkin dilakukan pada abad sebelumnya. Internet dewasa ini dianggap sebagai penyelesaian masalah terhadap segala keterbatasan manusia untuk mengembara dalam berbagai bentuk realitas tanpa batas (Astar Hadi:2005:4)
Dunia cyber menjadi dunia baru layaknya dalam kehidupan nyata menawarkan hal-hal yang bisa dilakukan pada dunia nyata. Mulai dari chatting, conference, berbelanja bahkan mencari jodoh bisa dilakukan di dunia maya ini. Hanya dengan “click” kita diajak untuk memasuki “ruang” dimana kita bisa mencari apa saja yang kita inginkan, memasuki komunitas yang memiliki minat yang sama dengan kita, atau malah menbentuk komunitas baru sesuai dengan keinginan kita tidak dibatasi oleh jarak dan waktu yang di sebut oleh Mc Luhan sebagai “Global Village”.
Cyberspace sebagai bentuk jaringan komunikasi dan interaksi global (Astar hadi: 2005:7) dengan bangga menawarkan system nilai dan bentuk komunitas sendiri, yaitu yang disebut komunitas virtual.
Menurut Yasraf Amir Piliang bahwasanya dalam era globalisasi dan abad virtual dewasa ini, banyak konsep sosial seperti integrasi, kesatuan, persatuan, nasionalisme dan solidaritas menjadi semakin kehilangan realitas sosialnya dan akhirnya menjadi mitos, dan menggiring masyarakat global kearah akhir sosial (Piliang : 2004:133).
Internet sebagai media komunikasi massa
Lebih dari setengah abad kebelakang, Amerika Serikat dan Negara-negara ekonomi maju secara gradual telah membuat perubahan kedalam apa yang biasanya disebut masyarakat informasi “era informasi” (Fukuyama: 2000). Dan keberadaan internet sebagai salah satu media masa yang bertujuan memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada khalayak.
Kita sedang berada pada sirkuit dimana kita dituntut untuk berpacu menerima dan mereproduksi informasi-informasi baru. Sehingga sangat sulit lagi di bedakan mana informasi-informasi yang asli dan mana yang salinan. Hampir tidak ada lagi originalitas sebuah informasi. Dengan jaringan kerja yang begitu luas dan kemampuan akses yang cepat dengan jarak yang luas teknologi ini menawarkan sisi lain dari komunikasi yang mendunia. Sekali lagi dengan “click” kita bisa mengirmkan, mengkopi atau mendownload informasi bersamaan dengan munculnya informasi itu sendiri. Berita tentang polygami aa Gym membajiri milis setiap komunitas dunia maya, didiskusikan, tafsir-tafsir ayat tentang ploigami segera bereadar di seantero Indonesia bahkan oleh komunitas Indonesia di luar negeri pada saat bersamaan si aa Gym mengeluarkan statementnya.
Terperangkap dalam realitas yang semu
Di dalam dunia virtual ini kita mendapatkan pengalaman luar biasa yang mungkin tidak dapat kita temui pada dunia nyata. Dunia ini bukanlah seperti ruang dalam arti sesungguhnya, melainkan sebuah metafora , sebuah “ruang simbolis” yang menjadi ruang jutaan manusia tidak dalam pengertian fisik. Sebagai contoh apabila kita bekomunikasi melalu chatting di internet di mana orang-orang akan bertemu dalam “ruang simbolis” yang memungkinkan kita berbagi informasi dan berinteraksi dengan keterlibatan emosi sebagaimana di dalam ruang sesungguhnya. Perasaan kita bisa tergantikan oleh ikon-ikon yang tersedia pada ruang chatting seolah–olah kita sedang mengekspresikanya secara langsung. Tertawa, menangis, sedih dan marah bisa terwakilkan oleh smiles pada ikon-ikon yang sudah tersedia tersebut.
Kita diajak untuk mendapatkan pengalaman lain mengembara dalam realitas tanpa batas, tidak hanya melihat gambar visual, lebih jauh lagi merasakan pengalaman yang sangat kompleks, dan hebatnya semua dapat kita lakukan tanpa beranjak dari tempat duduk kita. Cukup “click” saja.
Mengutip pernyataan Paul Virrilio dalam the Aesthetics of Disappearances, untuk”..menjadikan sesuatu yang supernatural, imajiner, bahkan yang tidak masuk akal menjadi tampak sebagai realitas (Astar Hadi: 2005:19). Kita telah banyak di manipulasi oleh image semu yang nyata. Virtualisasi media ini telah mampu mensimulasi berbagai bentuk realitas dalam ruang-ruang maya (Piliang:2001:179) di mana dalam sifat virtualitas media elektronika realitas bisa dikonstruksikan atau di rekonstruksi Inilah yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagi hiperreality untuk menjelaskan rekayasa makna dalam media.
Interaksi dalam realitas semu pada akhirnya mempengaruhi kehidupan kita. Nilai-nilai sosial yang lebih banyak menuntut norma, toleransi dsb mulai luntur mulai dan tidak populer. Keasyikkan bercyber dalam dunia maya telah mengurangi waktu untuk berinteraksi dengan orang lain dalam arti yang sebenarnya. Jarak hanya sejauh jangkauan jari telunjuk kita untuk meng click mouse. Dan kita terjebak dalam realitas semu yang kita sendiri menikmatinya.
Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi yang telah membawa kita pada “dunia global” dibanyak sisi mendatangkan manfaat. Sebagai contoh informasi tentang ilmu pengetahuan dapat dengan mudah kita akses tanpa perlu tergantung pada guru atau seseorang untuk memberikan penjelasan. Disisi lain banyak nilai-nilai humanis mulai hilang, interaksi yang menjadi syarat dalam kehidupan sosial telah mengalami erosi. Kita telah dipaksa untuk merekonstrusi definisi-definisi kehidupan sosial yang telah dijungkir balikkan oleh kehidupan sosial lain dalam dunia nyata yang semu. Pada akhirnya apakah kita akan bertahan atau terbawa ke dalam rimba raya, itu menjadi pilihan kita. Sangat diperlukan kearifan dan pemahaman untuk menghindari hancurnya tatanan sosial, sebagaimana di ramalkan oleh Francis Fukuyama perubahan – perubahan yang dramastis memunculkan “Great Distruption” (Fukuyama:2002)
Yogyakarta 18 Desember 2006
Rujukan
Fukuyama, Francis.2002. “The Great Disruption, Hakikat Manusia Dan Rekonstruksi Tatanan Sosial”. Yogyakarta :Qalam
Hadi, Astar. 2005. “Cyberspace, Kritik Humanis Mark Slouka Terhadap Jagat Maya”. Yogyakarta : LKIS
Ibrahim, Idi Subandy (editor).2004. “Lifestyle Ecstay, Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komoditas Indonesia”. Yogyakarta :Jalasutra 2004
Piliang, Yasraf Amir. 2004. “Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampai Batas-Batas Kebudayaan”. Yogyakarta :Jalasutra
Sunday, December 10, 2006
Samira dan Samir

Sebuah novel karya Siba Shakib
Penerbit Alvabet Jakarta
Tebal : viii+363
- Resensi ini sebagai hadiah untuk ummu Safin-
Terlahir sebagai “Samira” (perempuan), ayahnya salah satu kepala suku di pegunungan Hindu Kush di Afganistan merasa sangat kecewa. Sebagai seorang “komandan” istrinya harus mampu melahirkan anak laki-laki agar menjadikanya pria dan pemimpin sejati. Samira kemudian didiknya menjadi “Samir”- agar kelak menjadi seperti dirinya. Dan rahasia ini harus tetap terjaga agar dia sebagai pemimpin tetap dihargai karena telah memilki putra.
Samira yang Samir tumbuh cerdas dan tangkas, sampai suatu ketika di masa kanak-kanaknya dia menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirinya, dia dibingungkan oleh makna “laki-laki sejati” definisi sang ayah tidak cukup memuaskan jawabanya, bertanyalah sang bocah kepada sang Ibu. Sang Ibu yang dibesarkan dengan tradisi dimana perempuan bukanlah pemberi jawaban atau pembuat keputusan pun tidak mampu memberi jawaban. Samira yang Samir memutuskan untuk menjadi bisu dan tetap tumbuh menjadi Samir. Samira tahu bahwa dia harus membahagiakan ayahnya dan ayahnya dan itu adalah jika dia menajdi Samir.
Waktu berlalu, musim berganti dan perang tetap terjadi di Afganistan, di pegunungan Hindu Kush. Novel ini yang mengambil setting masyarakat nomaden di pegunungan Hindu Kush, dengan keganasan perang , dan dengan pemikiran orang-orang nya tentang definisi “perempuan” dan “laki-laki”. Dengan bahasa yang runtun dan Indah dan agak radikal Siba Shakib telah mampu membawa saya seperti menyaksikan sebuah film nyata.
Sang komandan syahid di medan perang, beban bertambah berat ketika suatu malam sekelompok orang menodai kehormatan sang ibu dan memaksa Samir menjadi pembunuh mereka dan ibunya kehilangan akal sehatnya. Kehidupan telah membawa Samir yang Samira melihat banyak hal dan mempertanyakan banyak hal. Karena ia telah mengakhiri kebisuanya.
Sampa pada suatu hari kakeknya membawanya kepada seorang guru, dimana Samir belajar membaca dan menulis dan mengetahui, bahwa dunia lebih luas dari yang ia saksikan. Dan bagaimana wanita menjadi tetap tertindaskan. Dan ilmu pengetahuanpun tidak mampu memberikan kemerdekaan.
Bukan saja alur cerita yang menarik Samir talah membuka kita bagaimana perempuan tertindaskan oleh hegemoni definisi laki-laki dan perempuan pada masyarakat Hindu Kush pada saat itu. Dunia yang di bangun bahwa laki-laki lah yang punya hak untuk merdeka dan berhak mengambil kemerdekaan perempuan.
Samira yang Samir tumbuh dan terus tumbuh, dengan ketangkasanya sebagai pemuda sejati dan dengan kelembutan hatinya sebagai wanita. Dia menjadi bimbang ketika perasaan-perasaan sebagai manusia dewasa mulai tumbuh dalam dirinya, apakah dia Samir atau Samira dan ketika dia menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Bashir teman kecilnya, akan tetapi karena dia seorang pemuda dia telah diminta menikahi Gol Sar yang saudara perempuan Bashir. Siba menceritakan dengan indah membawa pembacanya kedalam setting yang telah dia tentukan, menyaksikan pergulatan hati nurani, perjuangan dan kepiluan yang menyayat. Ada cerita dalam cerita sebagai bumbu dalam novel ini dan semakin menambah keasyikan sendiri dalam membacanya.
Sekali lagi saya belajar tetntang apa itu penindasan, kemerdekaan, cinta, kebahagian dan perjuangan. Sebuah novel yang sangat layak dibaca oleh yang mengaku sebagai perempuan atau laki-laki sejati.
-Selamat Membaca-
Monday, December 4, 2006
Gandhi Cintaku
Sebuah Novel oleh Sudhir Kakar
Penerbit : Qanita, 2005
Dalam sebuah perjalanan panjang menuju London, Aku merogoh isi tas jinjing untuk menemukan buku apa yang kubawa sebagai kawan perjalanan. Tadi karena tergesa- gesa, hanya mencomot 2 buah buku yang tidak terlalu tebal dari rak tanpa memperhatikan lagi judulnya.
Aha..ini dia aku mendapatkan satu diantaranya, setelah beberapa saat mengaduk-aduk tas yang tidak pernah rapi. Sebuah novel kecil berwarna hijau, bergambar seorang gadis menggenggam sekuntum mawar, agak sedikit ke atas gambar Mahatma Gandhi sengaja di buat tersamar. Sebuah Novel Sudhir Kakar seorang penulis dan psikoanalisis terkenal. Aku membelinya bulan lalu, karena kesibukan dan tertimbun oleh buku-buku lainya ,bahkan belum sempat membacanya.
Sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata seorang Mahatma Gandhi. Tentunya orang sudah sangat terbiasa membaca kisah-kisah Gandhi- Sang Guru. Tentang perjuanganya membebaskan India dari kolonial Inggris, tentang kecerdasanya, tentang cita-citanya akan tanah kelahiranya. Akan tetapai novel ini agak sedikit berbeda, mengungkap tentang kisah asmara sang guru dari cinta tak berujung sang pengagum, pemuja, dan sang murid. Sebelum mulai membacanya, aku sempat bertanya dalam hati “Adakah Gandhi mempunyai perasaan cinta dalam diri laki-lakinya, meskipun aku tahu bahwa dia menikah dengan Mahadevbhai pada usianya yang masih muda, tetapi aku bahkan tidak pernah memikirkan atau memperdulikan apakah Gandhi juga mempunyai rasa cinta indivudu terhadap wanita, yang kutahu adalah Gandhi dan perjuangan kemerdekaan India.
Diterjemahkan dari judul Mira & the Mahatma, Sudhir menyusun kisah-kisah nyata dengan bahasa indah dan santun. Terkadang Aku harus berhenti membaca beberapa saat untuk menghapus air mata, merasakan kepedihan Mira, seakan ikut merasakan cinta terpendamnya. Sebuah kisah biasa yang melibatkan seseorang yang luar biasa, yang juga Aku kagumi.
Adalah Madeline Slide, putri seorang Admiral Inggris, memutuskan untuk meninggalkan kehidupan mapanya di London, menukarnya dengan kerja keras dan kehidupan sederhana di Asrham Sabarmati Gujarat, tempat yang ia datangi untuk mengabdi kepada Gandhi. Waktu itu 1925, waktu dia memutuskan untuk meninggalkan London menuju India. Suasana politik di India sedang tenang, karena Inggris sangat pecaya bahwa daya tarik Gandhi sedang turun dan bahkan sudah habis. Padahal bagi pengikutnya dan bagi India, Gandhi tidak pernah mati, bahwa kejutan-kejutan lain akan segera muncul untuk mewujudkan swaraj (Pemerintahan Sendiri) bagi India.
Madeline Slide begitu mengagumi Gandhi, kekagumanya membawanya menuju Gujarat, mengikuti spirit dalam hatinya untuk bertemu manusia yang dianggapnya suci. Romain Rolland seorang pengarang besar Perancis yang juga pengagum dan sahabat Gandhi, yang berperan akan pertemuan Madeline dengan Gandhi.
Gandhi Sang Guru memberinya nama Mira (Mirabhen), Mira adalah nama seorang putri yang diberkahi karena pengabdian dan ketekunanya. Mira memanggil Gandhi Bapu sebagaimana komunitas Ashram lain memanggilnya. Gandhi adalah Bapu bagi semua pengagumnya.
Menyatu dengan ritme kehidupan Gandhi menjalani hari-harinya dengan tokoh besar yang sederhana dalam komunitas Ashram yang dibangunya dan dengan cita-cita swarajnya. Mira juga secara langsung belajar tentang ajaran-ajaran Gandhi, bukan hanya pengabdian murid kepada guru yang dipujanya, Aku merasakan cinta semakin kuat tumbuh dalam diri Mira.
Keinginan Mira untuk lebih dekat kepada Gandhi kini berubah menjadi kebutuhan yang mendesak, dan ketika itu tidak terpenuhi, berubah menjadi candu. Mira merasa menderita akibat sakitnya sebentar saja perpisahan dengan Sang Guru. Cintanya bukanlah cinta fisik, cinta yang ingin memiliki raga, melainkan kesatuan antara cinta dan pergulatan spiritual dalam dirinya.
Suatu saat guru bahasa hindinya memberikan sebuah lagu gubahan Mirabai, Mira menyalin lagu itu lagi dan lagi aku dapat merasakan gubahan lagu itu sangat mewakili perasaanya terhadap Gandhi, begini syairnya:
Aku gila karena Cinta, tak seorangpun tahu sakitnya yang kurasa
Hanya mereka yang terluka tahu pedihnya luka, tak seorang pun
Hanya jauhari yang tahu nilai permata, bukan orang yang menghilangkanya
Oh, Tuhan, sakit M ira hanya akan hilang
Jika sang Hitam menjadi penyembuhnya
(Sang Hitam atau the Dark One adalah sebutan untuk Dewa Khrisna yang memang berkulit hitam- catatan penterjemah)
Mira menyadari bahwa cinta dan kekagumanya kepada Bapu telah menjadi candu baginya, dan Bapu juga telah menyadari hal itu. Dari paparan kisah Sudhir, bagaimana Bapu memperlakukan Mira dan surat-surat yang disalin ulang dalam novel ini Aku bisa bisa melihat Gandhi, sebagai manusia biasa juga menaruh rasa cinta terhadap Mira, akan tetapi kerendahan hatinya dan ketinggian spiritualismenya Sang Guru begitu elegan mengontrol dirinya, dan bagiku memanglah dia seorang tokoh besar dibalik kesederhanaan hidupnya.
Salah satu surat Gandhi untuk Mira yang ditulisnya dalam gerbong kereta api tertanggal 22-3-27
Chi Mira,
Perpisahan hari ini memang sedih karena aku melihat bahwa aku membuatmu merasa sedih…kau seharusnya tidak bergantung padaku dalam tubuh ini. Ruhku akan selalu bersamamu. Dan itu lebih baik daripada ruh diriku kini yang lemah dan terpenjara oleh semua keterbatasan tubuh fisik. Ruh tanpa batasan fisik adalah yang kita butuhkan. Ini hanya bisa dirasakan kalau kita belajar untuk menerima perpisahan. Inilah sekarang yang harus kau lakukan.
Itu yang akan kulakukan jika aku menjadi kamu. Tetapi kau harus berkembang sesuai dengan jalurmu sendiri. Karena itu kau pasti menolak semua yang kukatakan disini, kalau itu tidak sesuai dengan kata hatimu dan pikiranmu. Kau harus mempertahankan individualitasmu, apapun resikonya. Tolaklah aku kalau perlu. Karena bisa saja aku salah menilaimu meskipun aku menyayangimu. Aku tak ingin kau menyalahkanku atas ketidaksempurnaanmu.
Dengan cinta,
Bapu
Sungguh Aku melihat sisi manusiawi seorang Gandhi. Dalam surat pendeknya yang lain ketika dia melakukan tapasya (pengekangan spiritual dalam rangka penyucian diri) berkaitan dengan kejadian di Ashram, dua orang anak laki-laki kedapatan melakukan hubungan seksual. Dia melakukan tapasya, karena dia menganggap hatinya yang mulai terkotori hal-hal keduniawian yang menyebabkan kejadian itu.
Mira,
Aku tidak akan menemuimu selama seminggu, aku akan merindukan kebersamaan kita, tetapi aku tidak boleh bergantung padanya. Aku menunggu jawaban nuraniku tentang nafsu tersembunyi dalam diriku yang telah mencemarkan ashram, dan pikiran anak-anak itu. Aku tidak tahu kapan jawaban itu akan dtaing ataukah jawaban itu akan benar-benar datang.
Kuharap kau bisa menemaniku ke siding kongres tahun ini. Sidang itu akan diadakan di Kanpur pada akhir bulan
Berkah Bapu
Dalam surat-surat Mira yang disalin ulang dalam novel ini Aku terhanyut akan cinta Mira terhadap Gandhi, pemujaan yang tidak rasional sebagaimana layaknya seseorang yang sedang jatuh cinta. Cintanya adalah manifesto dari kekaguman, kecintaan, pengorbanan, pengabdian, dan perjalanan spiritual menuju kepada seorang tokoh dunia. Seorang Gandhi.
Gandhi yang juga manusia biasa, akan tetapi kesalehanya dan cita-citanya akan kemerdekaan India yang telah lama menggembleng sisi kemanusiaan dari dirinya, dalam suratnya yang santun Gandhi menyampaikan:
Engkau ada di otakku. Aku memandang sekeliling, dan merindukanmu, Aku membuka Charkha (roda tenun) dan merindukanmu…Kau telah meninggalkan rumah, bangsamu dan semua yang berharga, bukan untuk mengabadi kepadaku secara pribadi, melainkan mengabdi pada tujuan yang kuperjuangkan. Setiap kali kau menghambur-hamburkan cintamu hanya untukku pribadi, aku merasa bersalah karena tak pantas. Dan aku meledak karena hal-hal kecil. Kini, saat kau tidak bersamaku, kemarahanku tertuju pada diriku sendiri kerena telah memarahimu dengan keras. Tetapi aku berbaring diatas abu panas setiap kali aku menerima pengabdianmu. Kau akan benar-benar mengabdi padaku apabila engkau dengan gembira bergabung dalam perjuangan cita-citaku.
Ah..Gandhi, Kerendahan hatimu dan kekerasanmu akan cita-cita swarajmu, telah mengalahkan sisi paling manusiawi dalam dirimu.
Terkadang cinta memang menyakitkan.
Pilot memberitahukan bahwa sebentar lagi kami akan segera mendarat di Hetrow, London dalam musim dingin, Suhu di darat 2°C- Ah..betapa bekunya Kota ini.
Aku mengakhiri halaman terakhir novel ini. Menutup kepedihan Mirabhen dan kesahajaan Gandhi.
Gandhi Cintaku
Penerbit : Qanita, 2005
Dalam sebuah perjalanan panjang menuju London, Aku merogoh isi tas jinjing untuk menemukan buku apa yang kubawa sebagai kawan perjalanan. Tadi karena tergesa- gesa, hanya mencomot 2 buah buku yang tidak terlalu tebal dari rak tanpa memperhatikan lagi judulnya.
Aha..ini dia aku mendapatkan satu diantaranya, setelah beberapa saat mengaduk-aduk tas yang tidak pernah rapi. Sebuah novel kecil berwarna hijau, bergambar seorang gadis menggenggam sekuntum mawar, agak sedikit ke atas gambar Mahatma Gandhi sengaja di buat tersamar. Sebuah Novel Sudhir Kakar seorang penulis dan psikoanalisis terkenal. Aku membelinya bulan lalu, karena kesibukan dan tertimbun oleh buku-buku lainya ,bahkan belum sempat membacanya.
Sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata seorang Mahatma Gandhi. Tentunya orang sudah sangat terbiasa membaca kisah-kisah Gandhi- Sang Guru. Tentang perjuanganya membebaskan India dari kolonial Inggris, tentang kecerdasanya, tentang cita-citanya akan tanah kelahiranya. Akan tetapai novel ini agak sedikit berbeda, mengungkap tentang kisah asmara sang guru dari cinta tak berujung sang pengagum, pemuja, dan sang murid. Sebelum mulai membacanya, aku sempat bertanya dalam hati “Adakah Gandhi mempunyai perasaan cinta dalam diri laki-lakinya, meskipun aku tahu bahwa dia menikah dengan Mahadevbhai pada usianya yang masih muda, tetapi aku bahkan tidak pernah memikirkan atau memperdulikan apakah Gandhi juga mempunyai rasa cinta indivudu terhadap wanita, yang kutahu adalah Gandhi dan perjuangan kemerdekaan India.
Diterjemahkan dari judul Mira & the Mahatma, Sudhir menyusun kisah-kisah nyata dengan bahasa indah dan santun. Terkadang Aku harus berhenti membaca beberapa saat untuk menghapus air mata, merasakan kepedihan Mira, seakan ikut merasakan cinta terpendamnya. Sebuah kisah biasa yang melibatkan seseorang yang luar biasa, yang juga Aku kagumi.
Adalah Madeline Slide, putri seorang Admiral Inggris, memutuskan untuk meninggalkan kehidupan mapanya di London, menukarnya dengan kerja keras dan kehidupan sederhana di Asrham Sabarmati Gujarat, tempat yang ia datangi untuk mengabdi kepada Gandhi. Waktu itu 1925, waktu dia memutuskan untuk meninggalkan London menuju India. Suasana politik di India sedang tenang, karena Inggris sangat pecaya bahwa daya tarik Gandhi sedang turun dan bahkan sudah habis. Padahal bagi pengikutnya dan bagi India, Gandhi tidak pernah mati, bahwa kejutan-kejutan lain akan segera muncul untuk mewujudkan swaraj (Pemerintahan Sendiri) bagi India.
Madeline Slide begitu mengagumi Gandhi, kekagumanya membawanya menuju Gujarat, mengikuti spirit dalam hatinya untuk bertemu manusia yang dianggapnya suci. Romain Rolland seorang pengarang besar Perancis yang juga pengagum dan sahabat Gandhi, yang berperan akan pertemuan Madeline dengan Gandhi.
Gandhi Sang Guru memberinya nama Mira (Mirabhen), Mira adalah nama seorang putri yang diberkahi karena pengabdian dan ketekunanya. Mira memanggil Gandhi Bapu sebagaimana komunitas Ashram lain memanggilnya. Gandhi adalah Bapu bagi semua pengagumnya.
Menyatu dengan ritme kehidupan Gandhi menjalani hari-harinya dengan tokoh besar yang sederhana dalam komunitas Ashram yang dibangunya dan dengan cita-cita swarajnya. Mira juga secara langsung belajar tentang ajaran-ajaran Gandhi, bukan hanya pengabdian murid kepada guru yang dipujanya, Aku merasakan cinta semakin kuat tumbuh dalam diri Mira.
Keinginan Mira untuk lebih dekat kepada Gandhi kini berubah menjadi kebutuhan yang mendesak, dan ketika itu tidak terpenuhi, berubah menjadi candu. Mira merasa menderita akibat sakitnya sebentar saja perpisahan dengan Sang Guru. Cintanya bukanlah cinta fisik, cinta yang ingin memiliki raga, melainkan kesatuan antara cinta dan pergulatan spiritual dalam dirinya.
Suatu saat guru bahasa hindinya memberikan sebuah lagu gubahan Mirabai, Mira menyalin lagu itu lagi dan lagi aku dapat merasakan gubahan lagu itu sangat mewakili perasaanya terhadap Gandhi, begini syairnya:
Aku gila karena Cinta, tak seorangpun tahu sakitnya yang kurasa
Hanya mereka yang terluka tahu pedihnya luka, tak seorang pun
Hanya jauhari yang tahu nilai permata, bukan orang yang menghilangkanya
Oh, Tuhan, sakit M ira hanya akan hilang
Jika sang Hitam menjadi penyembuhnya
(Sang Hitam atau the Dark One adalah sebutan untuk Dewa Khrisna yang memang berkulit hitam- catatan penterjemah)
Mira menyadari bahwa cinta dan kekagumanya kepada Bapu telah menjadi candu baginya, dan Bapu juga telah menyadari hal itu. Dari paparan kisah Sudhir, bagaimana Bapu memperlakukan Mira dan surat-surat yang disalin ulang dalam novel ini Aku bisa bisa melihat Gandhi, sebagai manusia biasa juga menaruh rasa cinta terhadap Mira, akan tetapi kerendahan hatinya dan ketinggian spiritualismenya Sang Guru begitu elegan mengontrol dirinya, dan bagiku memanglah dia seorang tokoh besar dibalik kesederhanaan hidupnya.
Salah satu surat Gandhi untuk Mira yang ditulisnya dalam gerbong kereta api tertanggal 22-3-27
Chi Mira,
Perpisahan hari ini memang sedih karena aku melihat bahwa aku membuatmu merasa sedih…kau seharusnya tidak bergantung padaku dalam tubuh ini. Ruhku akan selalu bersamamu. Dan itu lebih baik daripada ruh diriku kini yang lemah dan terpenjara oleh semua keterbatasan tubuh fisik. Ruh tanpa batasan fisik adalah yang kita butuhkan. Ini hanya bisa dirasakan kalau kita belajar untuk menerima perpisahan. Inilah sekarang yang harus kau lakukan.
Itu yang akan kulakukan jika aku menjadi kamu. Tetapi kau harus berkembang sesuai dengan jalurmu sendiri. Karena itu kau pasti menolak semua yang kukatakan disini, kalau itu tidak sesuai dengan kata hatimu dan pikiranmu. Kau harus mempertahankan individualitasmu, apapun resikonya. Tolaklah aku kalau perlu. Karena bisa saja aku salah menilaimu meskipun aku menyayangimu. Aku tak ingin kau menyalahkanku atas ketidaksempurnaanmu.
Dengan cinta,
Bapu
Sungguh Aku melihat sisi manusiawi seorang Gandhi. Dalam surat pendeknya yang lain ketika dia melakukan tapasya (pengekangan spiritual dalam rangka penyucian diri) berkaitan dengan kejadian di Ashram, dua orang anak laki-laki kedapatan melakukan hubungan seksual. Dia melakukan tapasya, karena dia menganggap hatinya yang mulai terkotori hal-hal keduniawian yang menyebabkan kejadian itu.
Mira,
Aku tidak akan menemuimu selama seminggu, aku akan merindukan kebersamaan kita, tetapi aku tidak boleh bergantung padanya. Aku menunggu jawaban nuraniku tentang nafsu tersembunyi dalam diriku yang telah mencemarkan ashram, dan pikiran anak-anak itu. Aku tidak tahu kapan jawaban itu akan dtaing ataukah jawaban itu akan benar-benar datang.
Kuharap kau bisa menemaniku ke siding kongres tahun ini. Sidang itu akan diadakan di Kanpur pada akhir bulan
Berkah Bapu
Dalam surat-surat Mira yang disalin ulang dalam novel ini Aku terhanyut akan cinta Mira terhadap Gandhi, pemujaan yang tidak rasional sebagaimana layaknya seseorang yang sedang jatuh cinta. Cintanya adalah manifesto dari kekaguman, kecintaan, pengorbanan, pengabdian, dan perjalanan spiritual menuju kepada seorang tokoh dunia. Seorang Gandhi.
Gandhi yang juga manusia biasa, akan tetapi kesalehanya dan cita-citanya akan kemerdekaan India yang telah lama menggembleng sisi kemanusiaan dari dirinya, dalam suratnya yang santun Gandhi menyampaikan:
Engkau ada di otakku. Aku memandang sekeliling, dan merindukanmu, Aku membuka Charkha (roda tenun) dan merindukanmu…Kau telah meninggalkan rumah, bangsamu dan semua yang berharga, bukan untuk mengabadi kepadaku secara pribadi, melainkan mengabdi pada tujuan yang kuperjuangkan. Setiap kali kau menghambur-hamburkan cintamu hanya untukku pribadi, aku merasa bersalah karena tak pantas. Dan aku meledak karena hal-hal kecil. Kini, saat kau tidak bersamaku, kemarahanku tertuju pada diriku sendiri kerena telah memarahimu dengan keras. Tetapi aku berbaring diatas abu panas setiap kali aku menerima pengabdianmu. Kau akan benar-benar mengabdi padaku apabila engkau dengan gembira bergabung dalam perjuangan cita-citaku.
Ah..Gandhi, Kerendahan hatimu dan kekerasanmu akan cita-cita swarajmu, telah mengalahkan sisi paling manusiawi dalam dirimu.
Terkadang cinta memang menyakitkan.
Pilot memberitahukan bahwa sebentar lagi kami akan segera mendarat di Hetrow, London dalam musim dingin, Suhu di darat 2°C- Ah..betapa bekunya Kota ini.
Aku mengakhiri halaman terakhir novel ini. Menutup kepedihan Mirabhen dan kesahajaan Gandhi.
Gandhi Cintaku
“SECARA”
“Na sorry gue nggak bisa ketemu eloe malam ini “SECARA” gue masih ada kerjaan”
Itulah penggalan kalimat yang di ucapkan teman saya yang baru saja datang dari Jakarta, dilain kesempatan teman lain mengirimkan pesan singkatnya begini
“Na bagaimana kalau kita makan di AMPLAS (Ambarukmo Plaza-red) "SECARA" tempatnya asyik “
Manager komunikasi saya yang datang dari Jakarta, menggunakan kata "SECARA" secara bertubi-tubi pada setiap ucapannya tidak peduli nyambung atau tidak dengan kalimatnya.
Awalnya saya berfikir dia tidak bisa berbicara bahasa Indonesia dengan baik dan benar- tapi apa iya seorang manager komunikasi tidak bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Lalu saya memberanikan diri menanyakanya padanya. Apakah dia sengaja menggunakan kata ”SECARA” tidak pada tempatnya, atau dia tidak tau kata sambung yang tepat apa?
Eh…dia malah mentertawakan saya…”Na… "SECARA" eloe kagak gaul sih!!”
Nah lho, rupanya SECARA sudah secara resmi menjadi bahasa gaul dan saya di bilang tidak gaul karena tidak menggunakannya.
Saya menemukan kecenderungan baru penggunaan kata “SECARA” menjadi kata sambung- meskipun tidak pada tempatnya. Walaupun saya bukan pemakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, penempatan kata yang tidak tepat pada sebuah kalimat-kalimat terutama yang di ucapkan verbal tetap menjadi aneh di telinga saya. Parahnya ada seorang teman yang sudah mulai memakai SECARA dengan tidak pada tempatnya ke dalam bahasa surat menyurat elektronik resmi.
Saya kira televisi si magic screen yang turut menyebarkan trend berbahasa ini. Melihat acara-acara komedi yang marak di televisi, mereka menabur virus jargon-jargon bahasa baru yang dengan cepat menyebar dikalangan muda dan memakainya sebagai bagian dari bahasa sosial mereka. Kalangan muda sangat khawatir kalau sampai disebut “kurang gaul” apabila tidak memakai gahasa-bahasa yang trend di pakai saat ini.
Saya menjadi sangat prihatin dengan “pemerkosaan kalimat” untuk mengikuti trend…tapi yah saya bisa apa? SECARA saya bukan siapa-siapa…aduh..MÉNÉ KÉ TÉHÉ !!(mana ku tahu-red)
Yogyakarta October 2006
Itulah penggalan kalimat yang di ucapkan teman saya yang baru saja datang dari Jakarta, dilain kesempatan teman lain mengirimkan pesan singkatnya begini
“Na bagaimana kalau kita makan di AMPLAS (Ambarukmo Plaza-red) "SECARA" tempatnya asyik “
Manager komunikasi saya yang datang dari Jakarta, menggunakan kata "SECARA" secara bertubi-tubi pada setiap ucapannya tidak peduli nyambung atau tidak dengan kalimatnya.
Awalnya saya berfikir dia tidak bisa berbicara bahasa Indonesia dengan baik dan benar- tapi apa iya seorang manager komunikasi tidak bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Lalu saya memberanikan diri menanyakanya padanya. Apakah dia sengaja menggunakan kata ”SECARA” tidak pada tempatnya, atau dia tidak tau kata sambung yang tepat apa?
Eh…dia malah mentertawakan saya…”Na… "SECARA" eloe kagak gaul sih!!”
Nah lho, rupanya SECARA sudah secara resmi menjadi bahasa gaul dan saya di bilang tidak gaul karena tidak menggunakannya.
Saya menemukan kecenderungan baru penggunaan kata “SECARA” menjadi kata sambung- meskipun tidak pada tempatnya. Walaupun saya bukan pemakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, penempatan kata yang tidak tepat pada sebuah kalimat-kalimat terutama yang di ucapkan verbal tetap menjadi aneh di telinga saya. Parahnya ada seorang teman yang sudah mulai memakai SECARA dengan tidak pada tempatnya ke dalam bahasa surat menyurat elektronik resmi.
Saya kira televisi si magic screen yang turut menyebarkan trend berbahasa ini. Melihat acara-acara komedi yang marak di televisi, mereka menabur virus jargon-jargon bahasa baru yang dengan cepat menyebar dikalangan muda dan memakainya sebagai bagian dari bahasa sosial mereka. Kalangan muda sangat khawatir kalau sampai disebut “kurang gaul” apabila tidak memakai gahasa-bahasa yang trend di pakai saat ini.
Saya menjadi sangat prihatin dengan “pemerkosaan kalimat” untuk mengikuti trend…tapi yah saya bisa apa? SECARA saya bukan siapa-siapa…aduh..MÉNÉ KÉ TÉHÉ !!(mana ku tahu-red)
Yogyakarta October 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)