Wednesday, April 3, 2013

Teknologi yang Memanusiakan Manusia

Untuk apa sebenarnya teknologi diciptakan? Tentunya untuk memudahkan hidup manusia. Memudahkan disini maksudnya adalah untuk membantu pekerjaan manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini.

 
Sekedar oleh-oleh dari perjalanan ke Korea Selatan beberapa bulan lalu, yang ingin saya bagi kepada pembaca. Bukan hanya sekedar menikmati beragam situs wisata, budaya dan kuliner, lebih dari itu, belajar dari negeri gingseng ini bagaimana teknologi diciptakan dan terus diperbaharui untuk mempermudah kehidupan manusia.
Korea memang menjadi salah satu rujukan teknologi dunia saat ini. Samsung, LG, Hyundai adalah beberapa brand Korea yang mendunia. Hebatnya, merekapun memakai produk mereka sendiri. Merk-merk mobil di jalanan kota Seoul jarang sekali yang buatan negara lain, kita hanya disuguhi Hyundai atau KIA dengan berbagai tipe dan model. Dalam Seoul metro (kereta subway), penumpang asyik masyuk dengan gadget samsung atau LG nya. Semua komputer di lab-lab universitas di dominasi oleh Samsung. Begitu cintanya mereka memakai produksi dalam negeri yang memang punya kualitas.
semua asyik dengan gadgetnya

Sarana publik dibuat senyaman mungkin, misalnya untuk transportasi, jangan heran anda tidak akan menemukan yang namanya kondektur di dalam bis atau kereta. T-Money card yang bisa dibeli di toko-toko berfungsi sebagai kartu pintar transportasi. Mau  naik taksi, kereta, bis dimanapun di Korea Selatan kartu ini bisa dipakai sebagai alat pembayaran. “Bip-bip” suara yang sering kita dengar di dalam bis atau di stasiun subway, ketika T-Money dtempelkan pada mesin pembaca. Saya hampir tidak pernah melihat orang membayar angkuatan publik ini dengan uang tunai. Kartu ini bisa diisi ulang di mesin-mesin isi ulang yang banyak berada di stasiun subway.

T-Money Card

 Dalam stasiun subway tidak ada counter penjual tiket, mesin-mesin pintar penjual tiket berjejer rapi di semua stasiun dengan operintah bahasa Inggris dan Korea.jika anda tidak memerlukanya lagi tiket tersebut, anda bisa memasukanya ke mesin refund dan anda masih mendapatkan uang kembalian sebesar 500KRW. 


 Mesin tiket dan isi ulang T-Money

 Masih didalam stasiun, semua fasilitas disediakan bagi semua orang tanpa terkecuali. Bagi yang mempunyai kekurangan fisik dan harus memakai kursi roda, tidak usah khawatir untuk naik turun tangga. Selain ada lift yang bisa di pakai, ada pula alat bantu untuk menaiki tangga. Alat ini memang dirancang khusus bagi pemakai kursi roda, biasanya juga manula. Pintu-pintu khusus, toilet dan space khusus dalam gerbong semua memudahkan mereka.
alat bantu naik tangga bagi pemakai kursi roda

 Jalur bagi tunanetra semua terhubung mulai dari trotoar, halte bis sampai stasiun subway memudahkan para tunanetra mengakses angkutan publik. Bagi pendatang yang kebingungan dengan rute subway anda dapat menginstal aplikasi Explore Seoul dari android anda. Informasi mengenai waktu tempuh dan biaya akan anda dapatkan dengang mudah dan akurat. Bila anda memilih naik taksi, disetiap taksi terdapat monitor GPS yang akan menuntun supir, rata-rata mesin GPS nya tiga dimensi. Biasanya bila supir tidak terlalu faham dengan daerah tujuan, dia akan memasukkan alamat pada kotak yang tersedia, dan mesin akan memberikan informasi. Keren!



Diakhir kunjungan, saya berkesempatan menaiki sedan Hyundai keluaran terbaru. Seorang kolega orang Korea, baru saja mendapatkan hadiah ulang tahun sebuah mobil pintar dari suaminya...so sweet sekali. Mobil yang anggun dan nyaman. Sistemnya diatur sedemikian rupa terhubung dengan sistem keamanan emergency, jika terjadi sesuatu pencet saja tombol ini maka polisi akan segera datang membantu, kata teman saya menjelaskan. GPSnya tentu saja 3 dimensi ditambah informasi jarak tujuan kita, misalnya Incheon International Airport 15 km lagi. Tidak hanya itu, yang membuat saya heran, ketika melewati jalan tol yang harus bayar tiba-tiba terdengar suara, yang kata teman saya artinya kartu kredit anda dipakai untuk membayar toll sebesar sekian KRW. Wow...

Sebuah perenungan dalam perjalanan pulang ke tanah air. Mungkinkah semua kepraktisan ini kita peroleh di tanah air. Tetapi tiba-tiba saya disadarkan pada konsep yang sangat berbeda yang dipahami oleh sebagian besar dari kita, yang sangat sulit saya cari terjemahkan dalam sebuah kata. Kita adalah orang yang suka berbagi, berbagi pekerjaan dan tentu saja berbagi rezeki. Misalnya daripada memasang CCTV di jalan raya yang bisa dikontrol secara terpusat, lebih baik menempatkan polisi sebagai mata-mata. Atau kita lebih suka membayar orang mejual tiket kereta daripada menciptakan mesin tiket, menempatkan kondektur dalam bis dan kereta untuk menarik ongkos, menempatkan satpam dirumah kita daripada memasang kunci pengaman digital.  Sungguh banyak SDM yang pastinya akan tergantikan apabila semua di gantikan dengan teknologi, karena masih banyak SDM yang hanya bisa bekerja atau terpaksa bekerja pada bidang-bidang yang sebenarnya bisa ditopang  oleh kemampuan teknologi.


Friday, December 21, 2012

Jalan-Jalan India #2

Lanjutan dari postingan sebelumnya, yang belum baca silahkan baca disini. Biasanya sebuah catatan perjalana berisi  referensi lokasi –lokasi yang indah, tempat-tempat yang menarik, kuliner, atau akomodasi murah meriah. Mungkin perlu di tambahkan juga hal-hal unik atau “aneh”  yang tidak ditemui di negara kita.

Waktu keAndhra Pradesh di Hyderabad, sebuah negara bagian di selatan India beberapa bulan lalu, padatnya acara dan singkatnya waktu jadi tidak banyak tempat wisata  yang saya kunjungi. Alhasil dari pada tidak ada catatan sama sekali saya coba tulis saja, peristiwa-peristiwa yang “ aneh” yang saya temui di sana.
Bila melihat bagaimana crowded dan kacaunya transportasi umum di Jakarta, saya sebagai “orang daerah” sudah cukup dibuat terheran-heran. Di Andhra Pradesh bukan cuma dibuat heran tapi juga syok. Pengemudi di India driving like crazy, dan hobi membunyikan klakson.  Saya tinggal di lanta 4 sebuah hotel di tengah kota dan masih bisa mendengar bisingnya klakson di jalan raya.

Anehnya ini sudah merupakan kelaziman, hampir di seluruh sarana transportasi umum darat di India terdapat simbol atau kata-kata “SOUND HORN”.Tidak seperti peringatan bahwa ngebut akan berbahaya yang hampir tidak pernah diabaikan oleh para pengemudi di India, pengemudi amat patuh membunyikan klakson walau tulisan itu bukan perintah resmi yang dikeluarkan oleh kepolisian India.
Salah satu peringatan yang bisa di temukan di Hyderabad

Safety first,speed next, sama sekali tidak berlaku


mudah-mudahan regulasinya benar di terapkan ya pak!

India termasuk negara dengan populasi penduduk terpadat, tidak heran angkutan umum di sini juga selalu tampak penuh sesak oleh penumpang. Bahkan bajaj pun kalau bisa di pakai seoptimal mungkin sebanyak mungkin orang bisa masuk. Tak mau kalah dengan itu motor pun nasibnya sama. Lucunya dalam bajaj terdapat sebuah alat yang mirip argometer pada taxi, tetapi alat tersebut tampaknya juga hanya sebatas hiasan karena prakteknya kita harus tetap tawar menawar dalam penentuan harga. Pokoknya sepertinya disini kenyamanan berkendara bukanlah tujuan utama, melainkan optimalisasi.
Bajaj dengan Argometer, tapi naik tetep harus nawar :-)

Optimalisasi penumpang bajaj, itu di belakang masih di tambah papan untuk tempat duduk
Tidaklah seperti film-film India yang selalu nampak glamor dan mewah, kehidupan sehari-hari hampir sama di Indonesia. Meski perekonomian India diberitakan berkembang pesat tetapi kesan kumuh dan semrawut telah melekat padanya. Dan mungkin karena terlalu banyak penduduknya dimana-mana terlihat manusia. Orang India suka sekali bepergian dalam kelompok, bisa satu keluarga besar untuk mengunjungi taman kota atau museum.
Dari semua kesemrawutan, hiruk pikuk dan kumuhnya negara ini, satu hal saya melihat  dan belajar adalah bagaimana semangat India untuk belajar. Saya berkesempatan mengunjungi sebuah universitas yang agak jauh dari ibukota. Meski sebuah universitas di daerah mahasiswa-mahasiswi  penuh sesak dalam satu kelas sederhana menyimak dosen memberi mata kuliah IT. Dan tentu saja kebanggaan mereka akan budayanya terlihat dengan “sari” sebagai pakaian sehari-hari meski baju-baju kasual bermerek tengah membombardir negara-negara berekembang. Para lelaki dengan tanda di dahi juga lazim kita lihat disini.
Yuk..enjoy  the picture :-)

di satu sisi optimalisasi disisi lain inefisiensi (kipas angin Vs AC di salah satu ruang Rektor)


Kaki 5 nya India

Sekolah Grammer yang ideal


Thursday, December 20, 2012

Menapak Jejak Islam Di Selatan India

SERI JALAN-JALAN  INDIA#1

Apabila kita menyebut "India" orang akan segera berfikir tentang "Taj Mahal". Tidak salah memang, tapi India begitu luas 3.287.590 km2 tentu saja banyak hal yang asyik untuk di telusuri di negara dengan populasi penduduk no 2 terpadat di dunia.
Saya berkesempatan mengikuti sebuah seminar di sebuah kota tua bernama Hyderabad pada pertengahan September lalu. Walaupun tidak memungkinkan untuk melihat Taj Mahal, ternyata banyak hal menarik juga yang bisa menjadi travel notes saya.
Inilah dia HYDERABAD.

Terletak di selatan India, bisa dikatakan Hyderabad adalah daerah bertemunya budaya India Utara dan India Selatan. Kota ini banyak di huni komunitas Muslim dan Hindu, selain itu ada juga komunitas kristen. Komunitas agama ini sudah ratusan tahun hidup berdampingan secara damai. Beribu kota Andhra Pradesh, Hyderabad berkembang pesat pada dekade ini.

Hyderabad juga merupakan salah satu negara bagian yang paling berkembang di India. Saat ini kota Andhra Pradesh merupakan sebuah pusat teknologi informasi, ITES dan bioteknologi.Perkembangan perekonomian dan teknologi India memang sangat pesat. Dengan sumber daya manusia yang cukup besar India cukup percaya diri untuk menjadi motor ekonomi dunia.
Hyderabad dan Secunderabad merupakan daerah kembar, dipisahkan oleh Husain Sagar, sebuah danau buatan manusia yang dibangun pada tahun 1562 semasa kepemimpinan Ibrahim Qutb Shah.
Hyderabad atau lebih tepat jika saya sebut saja Andhra Pradesh merupakan kota tua yang unik. Dikota inilah populasi muslim mencapai angka 50 %. Dalam catatan sejarah, kota ini adalah satu-satunya kota di India yang tidak berada di bawah kolonialisme Inggris. Hyderabad berada di bawah kekuasaan kerajaan Islam Nizamuddin. Bahkan tahun kemerdekaan Hyderabad berbeda dengan India yaitu pada tahun 1948.
Dibangun oleh Muhammad Quli Qutub Shah, Penguasa Nizamuddin yang berkuasa saat itu kota ini tumbuh menjadi kota yang sangat maju pada jamanya.

danau Husain Sagar yang membelah kota Hyderabad

DANAU HUSAIN SAGAR

Tidak lengkap rasanya mengunjungi Hyderabad tanpa menceritakan Danau Husain Sagar yang menghubungkan dua kota kembar Hyderabad dan scuderabad. Dibangun pada abad ke-16, untuk mengekspresikan rasa syukur Ibrahim Quli Qutub Shah terhadap Hussain Shah Wali yang membantu menyembuhkan penyakitnya.
Ini adalah danau buatan yang sangat luas yang dialiri air terus-menerus. Dibangun pada masa pemerintahan Shah Qutub Ibrahim, di anak sungai dari Sungai Musi pada 1562. Mengelilingi danau ini di bangun berbagai fasilitas umum, mulai dari taman, rumah makan dan tempat-tempat yang nyaman bagi pengunjung untuk menikmati keindahan danau. Sebuah patung Sang Buddha setinggi 18 m dibangun di atas danau.Ide mendirikan sebuah patung raksasa Buddha monolit di tengah-tengah danau Hussain Sagar adalah bagian dari proyek Buddha Poornima pada tahun 1985. Patung ini dipahat dari batu granit putih dengan bobot 450 ton. Batu tersebut diukir oleh pemahat 200 selama dua tahun. Patung ini diangkut ke Hyderabad pada bulan November 1988.

CHARMINAR



CHARMINAR, merupakan landmark dari kota hyderabad yang letaknya di tepi sungai musi. Disinilah dulunya kota Hyderabad berpusat. Orang-orang lebih mengenalnya dengan ”Old City Are”. Sultan Muhammad Qutub Quli Shah yaitu keturunan ke V dari raja Qutub Shah membangun CHARMINAR pada tahun 1591.
Sebagai kota yang dibangun oleh pemerintahan Islam, menuju Charminar akan banyak dijumpai jejak peninggalan Islam yang tampak dari arsitek dan penataan kota berciri Islam abad pertengahan.
Masjid ini di bangun sebagai peringatan akan hilangnya wabah penyakit yang melanda kota tersebut. Saat itu Qutub Quli Shah berkata, aku akan terus berdoa sampai wabah penyakit ini hilang dan akan mendirikan masjid di tempat dia berdoa. Pada tahun 1951 ketika fondasi CHARMINAR diletakkan, Sultan Muhammad Qutub Quli Shah berdoa”Ya Allah, limpahkan kedamaian dan kemakmuran atas kota ini, Biarkan kota ini menjadi rumah bagi jutaan orang dari berbagai kasta, agama, dan kepercayaan seperti ikan yang hidup dalam air “
Masjid ini menjadi dikenal sebagai Charminar karena kata-kata dua Urdu char, yang berarti empat, dan minar, yang berarti tower, dikombinasikan untuk membentuk Charminar.
Charminar adalah bangunan persegi dengan tinggi tiap sisi 20 meter , dengan empat lengkungan besar yang masing-masing menghadap empat jalan. Di setiap sudut berdiri sebuah menara indah setinggi 56 meter dengan balkon ganda. Setiap menara dimahkotai dengan kubah bulat dengan kelopak mungil. Sebuah masjid yang indah terletak di ujung barat dengan atap terbuka dan bagian yang tersisa dari atap ditempatit sebagai pengadilan selama masa Shahi Quthb . Ada 149 anak tangga berliku untuk mencapai lantai atas. Ruang di lantai atas antara menara dimaksudkan untuk shalat jumat.
Sayangnya meski merupakan situs sejarah, Charminar tampak tidak terawat, kumuh dan kotor. Area sekitar charminar yang dijadikan pusat perbelanjaan menambah “crowded” area ini. Tapi di luar itu semua patut di kagumi bagaimana orang-orang terdahulu meninggalkan jejaknya untuk selalu dikagumi oleh generasi yang akan datang.

MASJID MEKAH

Di bangun pada pemerintahan Quli Qutub Shah ke VI. Batu Bata untuk membuat lengkung masjid di buat dari tanah yang di ambil dari kota suci mekah. Lebih dari 8000 pekerja yang di pekerjakan untuk membangun masjid ini.
Aula utama dari masjid ini tingginya 57 kaki, lebar panjang 220 kaki, dan lebarnya 180 kaki, cukup untuk menampung 10000 jamaah pada waktu bersamaan. Lima belas lengkung menjjulang melingkari dinding-dinding masjid.
Pembangunan masjid ini di selesaikan oleh Kesultanan Mughal setelah berhasil menaklukkan kerajaan Nizamuddin.



KOMPLEK PEMAKAMAN QUTB SHAHI

Ini adalah komplek pemakaman Keluarga Sultan Qutub Quli Shah. Campuran arsitektur Persia, Pashtun dan Hindu mendominasi kompleks pemakaman ini. Makam adalah struktur anggun dengan batu berukir dan dikelilingi oleh taman-taman. Dulu makam ini dilengkapi dengan karpet dan kanopi guna melindungi para pembaca Al Quran yang terus membaca Alquran di makam ini.
Menara emas yang dipasang di atas makam para sultan untuk membedakan kuburan mereka dari orang-orang dari lain dari keluarga kerajaan.
Selama periode Shahi Qutub, makam ini merupakan tempat yang di hormati. Tapi setelah pemerintahan mereka, makam itu diabaikan sampai Sir Salar Jung III memerintahkan pemulihan mereka di awal abad 19. Sebuah taman yang cantik ditata, sehingga menjadi tempat yang indah dan nyaman.

MUSEUM SALAR JUNG

adalah museum terbesar ketiga di India dan salah satu koleksi pribadi terbesar di dunia. Museum ini di buka untuk umum pada 16 Desember 1951 oleh Perdana Menteri India Shri Jawaharlal Nehru telah dinyatakan terbuka seluruh koleksi SalarJung untuk umum pada tanggal 16 Desember, 1951.Koleksi pribadi tersebut dialihkan ke gedung yang sekarang ini pada tahun 1968.

Adalah Mir Yusuf Ali Khan dikenal sebagai Salar Jung III (1889-1949, pada usia 23 th telah menjabat sebagai Perdana Menteri pada kesultanan Nizam 1912. Dua setengah tahun kemudian dia mengundurkan diri. Setelah itu ia mendedikasikan seluruh hidupnya mengumpulkan barang-barang antik dan seni, itulah satu-satunya hasrat dalam kehidupanya yang sepi. Dia menghabiskan sebagian besar dari kekayaannya untuk mengumpulkan koleksi tersebut.
Masih banyak situs-situs peradaban Islam yang tidak bisa saya kunjungi di Hyderabad, sayang waktu mengunjungi kota tua ini sangat sedikit. Tetapi sebuah perjalanan adalah sebuah pelajaran. Semoga dengan bebagi pengalaman akan menambah manfaat dari perjalanan ini.













Thursday, August 19, 2010

Pesan sang Wali Nangroe*

Seorang teman meminta saya menulis tentang Hasan Tiro, Seorang tokoh yang hanya saya kenal melalui sedikit referensi yang saya punya. Toh saya tetap menulis. Tulisan ini sekaligus sebagai penghormatan terakhir saya pada beliau..ini dia,

++++

Mengenang nama Hasan Tiro selalu dikaitkan dengan perjuangan panjang menuju “Kemerdekaan Aceh”. Dirinya dikenang banyak orang sebagai “pahlawan” bagi warga nangroe dan sekaligus musuh” bagi pihak lain. Perjalanan panjang hidupnya, pemberontakan yang pernah ia lakukan, pengasinganya di kampong orang demi sebuah harga diri yang menurutnya sangat penting yaitu Aceh Merdeka. Akhir dari perjalanan panjang itu, di akhir hayatnya sang wali nangroe, dapat menyaksikan kedamaian tegak di bumi Aceh, dan ia kembali dalam buaian tanah air yang sangat ia cintai. Di sinilah di tanah Nangroe ini dia ditakdirkan lahir dan berpulang, dengan sebuah pesan agar Aceh selalu damai. Sungguh akhir yang sangat manis dari perjuangan panjang yang melelahkan.

+++

Sebagai seorang jawa yang sangat tertarik dengan budaya dan politik Aceh, sangat susah memahami pemikiran Tengku Muhammad Hasan Tiro. Otak saya yang dari SD sudah dijejali bahwa gerakan Aceh Merdeka adalah gerakan separatis, penghianat, berusaha keluar dari NKRI, membuat tembok penghalang untuk memahami kenapa seseorang atau sekelompok orang ingin merusak kedamaian di negeri “gemah ripah loh jinawi”ini. Akan tetapi setelah menetap, bergaul dan memahami karakter Aceh, semua sungguh bisa di maklumi. Perjuangan untuk mengembalikan Aceh sebagai kerajaan yang bermartabat telah di pandang sebagai tuntutan pembangkangan.

Saya mendapat salinan pidatonya, yang ia sampaikan di Stocholm pada 1 Februari 1991, berjudul Sumatra, milik siapa? Diterbitkan oleh Biro penerangan Angkatan Aceh-Sumatra Merdeka. Pidato yang sangat berapi-api menghujat pemerintah Indonesia masa itu. Menurut Hasan Tiro “bandit-bandit jawa” (pemerintah RI) telah merampas dan dengan semena-mena menjajah negeri Sumatra. Kekayaan alam yang luar biasa di keruk habis-habisan demi membangun kemegahan ibu kota Jakarta. Kedatangan orang-orang Jawa di Sumatra dianggapnya sebagai sebuah upaya “javanization”.

Saya dapat menarik dua grand idea, dari pemaparanya. Yang pertama adalah Hasan Tiro menginginkan kembali Kedaulatan kerajaan Aceh. Aceh adalah nagara berdaulat jauh sebelum Indonesia ada. Kekuasaanya meliputi seluruh Sumatra, Malaisya dan Kalimantan. Adalah sebuah kehinaan jika kemudian kedaulatan tersebut di kebiri dan hanya menjadi sebuah propinsi bagi Indonesia. Yang kedua, Hasan Tiro menyuarakan ketidak adilan yang ditanggung oleh masyarakat Aceh, janji-janji yang dikhianati oleh pemerintah pusat. Menurutnya anugrah yang di berikan Allah atas tanah rencong ini, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemakmuran warga Aceh. Tetapi yang terjadi saat itu, di mana system pemerintahan terpusat di Jakarta, sehingga hasil dari kekayaan Aceh justru tidak dapat dirasakan oleh orang Aceh.

Lobbynya terhadap dunia internasional dengan merujuk pada sejarah hubungan Kerajaan Aceh terhadap bangsa-bangsa lain membuahkan hasil. Misalnya seperti yang dikutip pada naskah pidato tersebut, sebuah surat resmi yang di keluarkan oleh kerjaan westminster Inggris tentang pengakuan terhadap hubungan antara kerajaan Inggris dan Aceh, dan kesediaan menjadi saksi pada komisi Hak Asasi Manusia tentang kolonialisme Jawa. Ini membuktikan kegigihanya merebut kembali apa yang dianggapnya sebagai hak, meski tak selalu berhasil. Tapi setidaknya dunia menyaksikan meskipun dia hidup dalam “pengasingan” pikiran-pikiran dan idenya mampu menggerakkan Aceh hingga pada di tingkat akar rumput. Dia membangun sebuah pemerintahan “On Line” dimana dia sendiri menjadi pemimpinnya dan mempunyai tentara lengkap dengan panglima-panglimanya.

Kenyataanya gerakan ini bagi NKRI adalah sebuah pemberontakan, sejak mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah gerakan yang menginginkan kemerdekaannya, Aceh selalu bergejolak. Selalu ada alas an bagi Pemerintah pusat untuk menumpas milisi Aceh. Sayangnya pemerintah saat itu selalu menggunakan pendekatan militer untuk menyelesaikannya. Mulai dari penetapan sebagai daerah Oprasi Militer (DOM), darurat militer hingga penetapan sebagai darurat sipil (yang pada kenyataanya tetap saja militer yang lebih berperan).

Keberadaan GAM sejatinya menjadi alasan yang sangat kuat untuk sebuat oprasi militer bertahan di sana. Menurut saya Pemerintahan Suharto telah mengulang kesalahan yang dilakukanya dalam menumpas gerakan 30 September 1965. Saat itu hingga beberapa puluh tahun sesudahnya semua yang berbau, walau tidak terlibat secara langsung atau hanya sekedar simpatisan atau orang yang berteman dengan seseorang yang terlibat dianggap sebagai musuh Negara. Sebuah kekhawatiran yang berlebihan yang menyebabkan pembantaian, diskriminasi hingga pengucilan, sebuah pelanggaran Hak Asasi Manusia yang sangat berat.

Sama juga seperti penumpasan Gerakan 30 September 1965, Keberadaan GAM sangat mengusik dan dianggap membahayakan kesatuan dan persatuan Bangsa. Karenanya berapapun dana akan dikerahkan untuk sebuah oprasi penumpasan. Semua yang berbau GAM, ditumpas habis. Banyak aktivis di culik untuk kemudian tidak ditemukan lagi hanya karena menggugat ketidak adilan yang terjadi di bumi Serambi Mekah dan lalu di klaim sebagai pengikut GAM. Pengajian-pengajian atau peringatan hari besar agama dengan konsentrasi massa dianggap sebagai sebuah upaya makar (Ingat peristiwa simpang KKA, 3 Mei 1999). Tengku-tengku yang mencoba mengajarkan kemurnian Al Quranul karim di curigai sebagai pencuci otak (ingat peristiwa tengku Bantaqiah 23 Juli 1999). Sudah tak terhitung nyawa melayang baik dari pihak TNI, masyarakat sipil, dan GAM. Ribuan janda dan Yatim yang harus menaggung “hina” karena suami dan ayahnya dianggap GAM.

Pendekatan Militerisme yang terus dipakai untuk mengatasi konflik di Aceh inilah yang kemudian menimbulkan luka hati yang sangat mendalam bagi warga Aceh Sendiri. Sehingga terbuktilah rakyat Aceh telah membuktikan sendiri kebenaran dari pikiran-pikiran Hasan Tiro. Seorang Hasan Tiro telah jauh menganalisa bahwa Pemerintah pusat akan selalu menggunakan pendekatan ini. Karenanya, Dia membangun “Negara di bawah tangan” dan mengerahkan tentaranya untuk selalu bergelirya melawan segala bentuk tekanan. Seakan tak pernah habis, upaya pengkaderan dan perekrutan, sehingga mereka yang mengklaim sebagai TNA (Tentara Nangroe Aceh) jumlahnya terus bertambah. Akhirnya keduanya memakai pendekatan militerisme untuk sebuah klaim kebenaran Kemerdekaan Vs Integritas Bangsa, TNA Vs TNI.

Karl Liebknech (2004) mengatakan bahwa militerisme adalah tanda kehidupan yang terpenting dan terkuat karena ia mengekspresikan naluri mempertahankan diri (self-preserving instinct), yaitu naluri mendasar yang dimiliki oleh suatu kelas, budaya dan bangsa dengan cara yang khusus terkonsentrasi terstruktur dan terkuat. Inilah yang disadari oleh Hasan tiro, selain harus mengupayakan lobby-lobby internasional tentang pelanggaran HAM yang dilakukan NKRI untuk mendapatkan pengakuan, maka untuk mendirikan sebuah Negara yang merdeka diperlukan sebuah tentara yang nyata. Tentara yang bukan hanya sekedar gerombolan orang-orang bersenjata, melainkan sebuah organisasi terstruktur dengan garis komando yang jelas dan orang-orang pilihan yang terlatih. Dengan memakai kacamata Althusserian, Bahwa gagasan Hasan Tiro yang membentuk ideology tidak hanya mempunyai eksistensi spirit saja melainkan harus diturunkan ke dalam eksistensi materi. kepercayaan seseorang atau ideologi seseorang terhadap hal tertentu akan diturunkan dalam bentuk-bentuk material yang secara natural akan diikuti oleh orang tersebut. Misalnya jika kita percaya kepada Tuhan dan termasuk penganut agama tertentu, maka kita akan pergi ke gereja untuk mengikuti misa, pergi ke masjid untuk sembahyang lima waktu. Atau kalau kita percaya keadilan, maka kita akan tunduk pada aturan hukum, menyatakan protes, atau bahkan ikut ambil bagian dalam demonstrasi, jika ketidakadilan menimpa kita.

Hassan Tiro bukan tidak memikirkan sudah sekian banyak jatuh korban sejak GAM dideklarasikan. Upaya menuju perdamaian melalui meja perundingan terus digelar, toh tidak banyak berarti. Setidaknya tercatat 15.000 orang lebih meninggal dunia, 48.000 lainya menjadi pengungsi akibat konflik yang terjadi di Aceh[1]. Kehidupan social, ekonomi, budaya kacau balau dan tidak juga menempatkan Aceh sebagai bangsa yang bermartabat seperti harapan semula. Perlawanan yang di lakukan GAM tidak juga membawa rakyat Aceh ke dalam keadaan yang lebih baik. Rakyat berada pada situasi dilemma yang sangat sulit. Mengamini GAM sama dengan pemberontak, berada di pihak RI dianggap sebagai penghianat, dan sangat umum taruhan bagi keduanya adalah nyawa. Tidak ada kebebasan berpendapat, karena ada “telinga-telinga” intel yang selalu bergerilya. Salah-salah bicara, bias jadi kita tidak dapat lagi berkumpul dengan keluarga esok harinya.

Paskareformasi upaya-upaya menghentikan konflik di Aceh masih terus dilakukan dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang berbeda. Pada tahun 2000 GAM dan RI mencoba melakukan negosiasi untuk menghentikan konflik melalui jeda kemanusiaan, akan tetapi dampaknya hanya sedikit saja. Pada Desember 2002 ditandatangani kesepakatan gencatan senjata yang dikenal dengan Cessation of Hostilities Agreement (COHA), akan tetapi terjadi pelanggaran akan kesepakatan ini pada Mei 2003 yang menimbulkan ketidakpercayan dan menempatkan Aceh kembali pada Darurat Militer yang kemudian status darurat turun menjadi darurat Sipil pada 2004. Pemberlakuan darurat sipil tidak serta merta menghapuskan operasi-operasi militer yang dilakukan untuk menumpas anggota GAM. Pasukan GAM terdesak ke pegunungan dan keamanan propinsi menjadi tidak stabil, terjadi banyak kekacauan, penculikan, kekerasan dan pembunuhan[2].

Dibeberapa kelompok masyarakat GAM mendapatkan dukungan luas, meskipun demikian di beberapa kelompok lainya sangat tergantung pada loyalitas mereka. Meskipun demikian dukungan untuk GAM tidaklah sama dengan dukungan untuk aparat TNI. Konflik yang terjadi lebih digambarkan sebagai konflik vertikal daripada konflik horisontal. Seringkali masyarakat justru merasa tertekan, khawatir dan menjadi tidak berdaya dalam menentukan sikap.

Save by the Tsunami

Tsunami yang terjadi di penghujung 2004 telah membawa perubahan dinamis dari konflik itu sendiri. Tsunami memberi jeda bagi kedua belah pihak untuk kembali membuka kesempatan-kesempatan damai. Negosiasi yang di fasilitasi oleh Crisis Management Initiative di Finlandia, membawa pada kesepahaman bersama yang ditandatangani 15 Agustus 2005 di mana kedua belah pihak melakukan kompromi politik. Sebuah komitmen dibangun ditengah hiruk pikuk rehabilitasi paska bencana.

Konflik seolah berhenti karena disibukkan dengan upaya penanggulangan korban tsunami. Tsunami memberikan ruang dan kesempatan utuk memikirkan kembali bagaimana membangun Aceh, bukan hanya membangun Aceh secara fisik sekaligus membangun perdaban Aceh yang telah terkoyak sekian lama akibat konflik.

Meskipun kesepahaman diantara GAM dan RI telah dicapai, tidak serta merta bahwa konflik dengan segala konsekuensi yang ditimbulkan selama dan paska konflik dapat menguap begitu saja. Kemajuan pelaksanaan upaya damai ini memang tampak terlihat, tentu saja keberhasilan ini didukung oleh masyarakat Aceh dan komitmen yang kuat dari Pemerintah dan GAM yang kini lebih berfokus pada pembangunan Aceh paskatsunami.

Pada masa transisi ini pola konflikpun mulai bergeser, didaerah-daerah yang sebelumnya dikenal sebagai daerah-daerah basis perlawanan, insiden kekerasan mulai berkurang. Tetapi dampak dari konflik itu sendiri masih membekas bagi masyarakat baik secara fisik dan mental. Sebagai contoh hancurnya infrastruktur, hilangya mata pencaharian dan trauma yang berkepanjangan. Daerah-daerah ini tentu saja juga membutuhkan rehabilitasi dan rekonstruksi termasuk reintegrasi mantan anggota GAM di masyarakat. Dalam hal ini muncul resiko konflik baru. Potensi konflik mungkin tidak lagi menjurus kepada konflik vertikal sebagaimana sebelumnya, akan tetapi bergeser pada konflik sosial horizontal, misalnya masalah-masalah reintegrasi, masalah reformasi tanah, pengungsi dan masih banyak lagi hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik baru yang sebagai efek dari perdamaian dan pembangunan paskabencana[3] .

Saya kira seorang Hasan Tiro dapat membaca potensi “konflik” yang lebih besar di masa yang akan datang. Kesepakatanya untuk berdamai dengan NKRI tentu bukan pilihan main-main, harga diri Nangroe yang ia perjuangkan selama ini menjadi taruhanya. Dia mempunyai jiwa yang besar untuk menerima ini bukan sebagai kekalahan dalam peperangan. Sebuah pilihan yang arif. Ia memetuskan untuk kembali ke tanah di mana ia di lahirkan, bahkan ia rela kembali menjadi warga Negara Republik Indonesia. Dengan Sebuah pesan untuk selalu menjaga kedamaian di Bumi Serambi Mekah ini, Dia menghadap sang Khalik.

* Diterbitkan oleh Bandar Publishing dalam "Hasan Tiro Unifinished Story" Penyunting Husaini Nurdin, Banda Aceh 2010

[1] Aceh Conflict Assesment Report, by Helene Ostbye & David Tolfree, 2005

[2] Barron et al (2005), hal: 6.

[3] Aceh Monitoring Update, December 2005, World Bank/DSF : www.conflictanddevelopment.org, and as experienced in February 2006 by UNDP