Friday, December 21, 2012

Jalan-Jalan India #2

Lanjutan dari postingan sebelumnya, yang belum baca silahkan baca disini. Biasanya sebuah catatan perjalana berisi  referensi lokasi –lokasi yang indah, tempat-tempat yang menarik, kuliner, atau akomodasi murah meriah. Mungkin perlu di tambahkan juga hal-hal unik atau “aneh”  yang tidak ditemui di negara kita.

Waktu keAndhra Pradesh di Hyderabad, sebuah negara bagian di selatan India beberapa bulan lalu, padatnya acara dan singkatnya waktu jadi tidak banyak tempat wisata  yang saya kunjungi. Alhasil dari pada tidak ada catatan sama sekali saya coba tulis saja, peristiwa-peristiwa yang “ aneh” yang saya temui di sana.
Bila melihat bagaimana crowded dan kacaunya transportasi umum di Jakarta, saya sebagai “orang daerah” sudah cukup dibuat terheran-heran. Di Andhra Pradesh bukan cuma dibuat heran tapi juga syok. Pengemudi di India driving like crazy, dan hobi membunyikan klakson.  Saya tinggal di lanta 4 sebuah hotel di tengah kota dan masih bisa mendengar bisingnya klakson di jalan raya.

Anehnya ini sudah merupakan kelaziman, hampir di seluruh sarana transportasi umum darat di India terdapat simbol atau kata-kata “SOUND HORN”.Tidak seperti peringatan bahwa ngebut akan berbahaya yang hampir tidak pernah diabaikan oleh para pengemudi di India, pengemudi amat patuh membunyikan klakson walau tulisan itu bukan perintah resmi yang dikeluarkan oleh kepolisian India.
Salah satu peringatan yang bisa di temukan di Hyderabad

Safety first,speed next, sama sekali tidak berlaku


mudah-mudahan regulasinya benar di terapkan ya pak!

India termasuk negara dengan populasi penduduk terpadat, tidak heran angkutan umum di sini juga selalu tampak penuh sesak oleh penumpang. Bahkan bajaj pun kalau bisa di pakai seoptimal mungkin sebanyak mungkin orang bisa masuk. Tak mau kalah dengan itu motor pun nasibnya sama. Lucunya dalam bajaj terdapat sebuah alat yang mirip argometer pada taxi, tetapi alat tersebut tampaknya juga hanya sebatas hiasan karena prakteknya kita harus tetap tawar menawar dalam penentuan harga. Pokoknya sepertinya disini kenyamanan berkendara bukanlah tujuan utama, melainkan optimalisasi.
Bajaj dengan Argometer, tapi naik tetep harus nawar :-)

Optimalisasi penumpang bajaj, itu di belakang masih di tambah papan untuk tempat duduk
Tidaklah seperti film-film India yang selalu nampak glamor dan mewah, kehidupan sehari-hari hampir sama di Indonesia. Meski perekonomian India diberitakan berkembang pesat tetapi kesan kumuh dan semrawut telah melekat padanya. Dan mungkin karena terlalu banyak penduduknya dimana-mana terlihat manusia. Orang India suka sekali bepergian dalam kelompok, bisa satu keluarga besar untuk mengunjungi taman kota atau museum.
Dari semua kesemrawutan, hiruk pikuk dan kumuhnya negara ini, satu hal saya melihat  dan belajar adalah bagaimana semangat India untuk belajar. Saya berkesempatan mengunjungi sebuah universitas yang agak jauh dari ibukota. Meski sebuah universitas di daerah mahasiswa-mahasiswi  penuh sesak dalam satu kelas sederhana menyimak dosen memberi mata kuliah IT. Dan tentu saja kebanggaan mereka akan budayanya terlihat dengan “sari” sebagai pakaian sehari-hari meski baju-baju kasual bermerek tengah membombardir negara-negara berekembang. Para lelaki dengan tanda di dahi juga lazim kita lihat disini.
Yuk..enjoy  the picture :-)

di satu sisi optimalisasi disisi lain inefisiensi (kipas angin Vs AC di salah satu ruang Rektor)


Kaki 5 nya India

Sekolah Grammer yang ideal


Thursday, December 20, 2012

Menapak Jejak Islam Di Selatan India

SERI JALAN-JALAN  INDIA#1

Apabila kita menyebut "India" orang akan segera berfikir tentang "Taj Mahal". Tidak salah memang, tapi India begitu luas 3.287.590 km2 tentu saja banyak hal yang asyik untuk di telusuri di negara dengan populasi penduduk no 2 terpadat di dunia.
Saya berkesempatan mengikuti sebuah seminar di sebuah kota tua bernama Hyderabad pada pertengahan September lalu. Walaupun tidak memungkinkan untuk melihat Taj Mahal, ternyata banyak hal menarik juga yang bisa menjadi travel notes saya.
Inilah dia HYDERABAD.

Terletak di selatan India, bisa dikatakan Hyderabad adalah daerah bertemunya budaya India Utara dan India Selatan. Kota ini banyak di huni komunitas Muslim dan Hindu, selain itu ada juga komunitas kristen. Komunitas agama ini sudah ratusan tahun hidup berdampingan secara damai. Beribu kota Andhra Pradesh, Hyderabad berkembang pesat pada dekade ini.

Hyderabad juga merupakan salah satu negara bagian yang paling berkembang di India. Saat ini kota Andhra Pradesh merupakan sebuah pusat teknologi informasi, ITES dan bioteknologi.Perkembangan perekonomian dan teknologi India memang sangat pesat. Dengan sumber daya manusia yang cukup besar India cukup percaya diri untuk menjadi motor ekonomi dunia.
Hyderabad dan Secunderabad merupakan daerah kembar, dipisahkan oleh Husain Sagar, sebuah danau buatan manusia yang dibangun pada tahun 1562 semasa kepemimpinan Ibrahim Qutb Shah.
Hyderabad atau lebih tepat jika saya sebut saja Andhra Pradesh merupakan kota tua yang unik. Dikota inilah populasi muslim mencapai angka 50 %. Dalam catatan sejarah, kota ini adalah satu-satunya kota di India yang tidak berada di bawah kolonialisme Inggris. Hyderabad berada di bawah kekuasaan kerajaan Islam Nizamuddin. Bahkan tahun kemerdekaan Hyderabad berbeda dengan India yaitu pada tahun 1948.
Dibangun oleh Muhammad Quli Qutub Shah, Penguasa Nizamuddin yang berkuasa saat itu kota ini tumbuh menjadi kota yang sangat maju pada jamanya.

danau Husain Sagar yang membelah kota Hyderabad

DANAU HUSAIN SAGAR

Tidak lengkap rasanya mengunjungi Hyderabad tanpa menceritakan Danau Husain Sagar yang menghubungkan dua kota kembar Hyderabad dan scuderabad. Dibangun pada abad ke-16, untuk mengekspresikan rasa syukur Ibrahim Quli Qutub Shah terhadap Hussain Shah Wali yang membantu menyembuhkan penyakitnya.
Ini adalah danau buatan yang sangat luas yang dialiri air terus-menerus. Dibangun pada masa pemerintahan Shah Qutub Ibrahim, di anak sungai dari Sungai Musi pada 1562. Mengelilingi danau ini di bangun berbagai fasilitas umum, mulai dari taman, rumah makan dan tempat-tempat yang nyaman bagi pengunjung untuk menikmati keindahan danau. Sebuah patung Sang Buddha setinggi 18 m dibangun di atas danau.Ide mendirikan sebuah patung raksasa Buddha monolit di tengah-tengah danau Hussain Sagar adalah bagian dari proyek Buddha Poornima pada tahun 1985. Patung ini dipahat dari batu granit putih dengan bobot 450 ton. Batu tersebut diukir oleh pemahat 200 selama dua tahun. Patung ini diangkut ke Hyderabad pada bulan November 1988.

CHARMINAR



CHARMINAR, merupakan landmark dari kota hyderabad yang letaknya di tepi sungai musi. Disinilah dulunya kota Hyderabad berpusat. Orang-orang lebih mengenalnya dengan ”Old City Are”. Sultan Muhammad Qutub Quli Shah yaitu keturunan ke V dari raja Qutub Shah membangun CHARMINAR pada tahun 1591.
Sebagai kota yang dibangun oleh pemerintahan Islam, menuju Charminar akan banyak dijumpai jejak peninggalan Islam yang tampak dari arsitek dan penataan kota berciri Islam abad pertengahan.
Masjid ini di bangun sebagai peringatan akan hilangnya wabah penyakit yang melanda kota tersebut. Saat itu Qutub Quli Shah berkata, aku akan terus berdoa sampai wabah penyakit ini hilang dan akan mendirikan masjid di tempat dia berdoa. Pada tahun 1951 ketika fondasi CHARMINAR diletakkan, Sultan Muhammad Qutub Quli Shah berdoa”Ya Allah, limpahkan kedamaian dan kemakmuran atas kota ini, Biarkan kota ini menjadi rumah bagi jutaan orang dari berbagai kasta, agama, dan kepercayaan seperti ikan yang hidup dalam air “
Masjid ini menjadi dikenal sebagai Charminar karena kata-kata dua Urdu char, yang berarti empat, dan minar, yang berarti tower, dikombinasikan untuk membentuk Charminar.
Charminar adalah bangunan persegi dengan tinggi tiap sisi 20 meter , dengan empat lengkungan besar yang masing-masing menghadap empat jalan. Di setiap sudut berdiri sebuah menara indah setinggi 56 meter dengan balkon ganda. Setiap menara dimahkotai dengan kubah bulat dengan kelopak mungil. Sebuah masjid yang indah terletak di ujung barat dengan atap terbuka dan bagian yang tersisa dari atap ditempatit sebagai pengadilan selama masa Shahi Quthb . Ada 149 anak tangga berliku untuk mencapai lantai atas. Ruang di lantai atas antara menara dimaksudkan untuk shalat jumat.
Sayangnya meski merupakan situs sejarah, Charminar tampak tidak terawat, kumuh dan kotor. Area sekitar charminar yang dijadikan pusat perbelanjaan menambah “crowded” area ini. Tapi di luar itu semua patut di kagumi bagaimana orang-orang terdahulu meninggalkan jejaknya untuk selalu dikagumi oleh generasi yang akan datang.

MASJID MEKAH

Di bangun pada pemerintahan Quli Qutub Shah ke VI. Batu Bata untuk membuat lengkung masjid di buat dari tanah yang di ambil dari kota suci mekah. Lebih dari 8000 pekerja yang di pekerjakan untuk membangun masjid ini.
Aula utama dari masjid ini tingginya 57 kaki, lebar panjang 220 kaki, dan lebarnya 180 kaki, cukup untuk menampung 10000 jamaah pada waktu bersamaan. Lima belas lengkung menjjulang melingkari dinding-dinding masjid.
Pembangunan masjid ini di selesaikan oleh Kesultanan Mughal setelah berhasil menaklukkan kerajaan Nizamuddin.



KOMPLEK PEMAKAMAN QUTB SHAHI

Ini adalah komplek pemakaman Keluarga Sultan Qutub Quli Shah. Campuran arsitektur Persia, Pashtun dan Hindu mendominasi kompleks pemakaman ini. Makam adalah struktur anggun dengan batu berukir dan dikelilingi oleh taman-taman. Dulu makam ini dilengkapi dengan karpet dan kanopi guna melindungi para pembaca Al Quran yang terus membaca Alquran di makam ini.
Menara emas yang dipasang di atas makam para sultan untuk membedakan kuburan mereka dari orang-orang dari lain dari keluarga kerajaan.
Selama periode Shahi Qutub, makam ini merupakan tempat yang di hormati. Tapi setelah pemerintahan mereka, makam itu diabaikan sampai Sir Salar Jung III memerintahkan pemulihan mereka di awal abad 19. Sebuah taman yang cantik ditata, sehingga menjadi tempat yang indah dan nyaman.

MUSEUM SALAR JUNG

adalah museum terbesar ketiga di India dan salah satu koleksi pribadi terbesar di dunia. Museum ini di buka untuk umum pada 16 Desember 1951 oleh Perdana Menteri India Shri Jawaharlal Nehru telah dinyatakan terbuka seluruh koleksi SalarJung untuk umum pada tanggal 16 Desember, 1951.Koleksi pribadi tersebut dialihkan ke gedung yang sekarang ini pada tahun 1968.

Adalah Mir Yusuf Ali Khan dikenal sebagai Salar Jung III (1889-1949, pada usia 23 th telah menjabat sebagai Perdana Menteri pada kesultanan Nizam 1912. Dua setengah tahun kemudian dia mengundurkan diri. Setelah itu ia mendedikasikan seluruh hidupnya mengumpulkan barang-barang antik dan seni, itulah satu-satunya hasrat dalam kehidupanya yang sepi. Dia menghabiskan sebagian besar dari kekayaannya untuk mengumpulkan koleksi tersebut.
Masih banyak situs-situs peradaban Islam yang tidak bisa saya kunjungi di Hyderabad, sayang waktu mengunjungi kota tua ini sangat sedikit. Tetapi sebuah perjalanan adalah sebuah pelajaran. Semoga dengan bebagi pengalaman akan menambah manfaat dari perjalanan ini.













Thursday, August 19, 2010

Pesan sang Wali Nangroe*

Seorang teman meminta saya menulis tentang Hasan Tiro, Seorang tokoh yang hanya saya kenal melalui sedikit referensi yang saya punya. Toh saya tetap menulis. Tulisan ini sekaligus sebagai penghormatan terakhir saya pada beliau..ini dia,

++++

Mengenang nama Hasan Tiro selalu dikaitkan dengan perjuangan panjang menuju “Kemerdekaan Aceh”. Dirinya dikenang banyak orang sebagai “pahlawan” bagi warga nangroe dan sekaligus musuh” bagi pihak lain. Perjalanan panjang hidupnya, pemberontakan yang pernah ia lakukan, pengasinganya di kampong orang demi sebuah harga diri yang menurutnya sangat penting yaitu Aceh Merdeka. Akhir dari perjalanan panjang itu, di akhir hayatnya sang wali nangroe, dapat menyaksikan kedamaian tegak di bumi Aceh, dan ia kembali dalam buaian tanah air yang sangat ia cintai. Di sinilah di tanah Nangroe ini dia ditakdirkan lahir dan berpulang, dengan sebuah pesan agar Aceh selalu damai. Sungguh akhir yang sangat manis dari perjuangan panjang yang melelahkan.

+++

Sebagai seorang jawa yang sangat tertarik dengan budaya dan politik Aceh, sangat susah memahami pemikiran Tengku Muhammad Hasan Tiro. Otak saya yang dari SD sudah dijejali bahwa gerakan Aceh Merdeka adalah gerakan separatis, penghianat, berusaha keluar dari NKRI, membuat tembok penghalang untuk memahami kenapa seseorang atau sekelompok orang ingin merusak kedamaian di negeri “gemah ripah loh jinawi”ini. Akan tetapi setelah menetap, bergaul dan memahami karakter Aceh, semua sungguh bisa di maklumi. Perjuangan untuk mengembalikan Aceh sebagai kerajaan yang bermartabat telah di pandang sebagai tuntutan pembangkangan.

Saya mendapat salinan pidatonya, yang ia sampaikan di Stocholm pada 1 Februari 1991, berjudul Sumatra, milik siapa? Diterbitkan oleh Biro penerangan Angkatan Aceh-Sumatra Merdeka. Pidato yang sangat berapi-api menghujat pemerintah Indonesia masa itu. Menurut Hasan Tiro “bandit-bandit jawa” (pemerintah RI) telah merampas dan dengan semena-mena menjajah negeri Sumatra. Kekayaan alam yang luar biasa di keruk habis-habisan demi membangun kemegahan ibu kota Jakarta. Kedatangan orang-orang Jawa di Sumatra dianggapnya sebagai sebuah upaya “javanization”.

Saya dapat menarik dua grand idea, dari pemaparanya. Yang pertama adalah Hasan Tiro menginginkan kembali Kedaulatan kerajaan Aceh. Aceh adalah nagara berdaulat jauh sebelum Indonesia ada. Kekuasaanya meliputi seluruh Sumatra, Malaisya dan Kalimantan. Adalah sebuah kehinaan jika kemudian kedaulatan tersebut di kebiri dan hanya menjadi sebuah propinsi bagi Indonesia. Yang kedua, Hasan Tiro menyuarakan ketidak adilan yang ditanggung oleh masyarakat Aceh, janji-janji yang dikhianati oleh pemerintah pusat. Menurutnya anugrah yang di berikan Allah atas tanah rencong ini, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemakmuran warga Aceh. Tetapi yang terjadi saat itu, di mana system pemerintahan terpusat di Jakarta, sehingga hasil dari kekayaan Aceh justru tidak dapat dirasakan oleh orang Aceh.

Lobbynya terhadap dunia internasional dengan merujuk pada sejarah hubungan Kerajaan Aceh terhadap bangsa-bangsa lain membuahkan hasil. Misalnya seperti yang dikutip pada naskah pidato tersebut, sebuah surat resmi yang di keluarkan oleh kerjaan westminster Inggris tentang pengakuan terhadap hubungan antara kerajaan Inggris dan Aceh, dan kesediaan menjadi saksi pada komisi Hak Asasi Manusia tentang kolonialisme Jawa. Ini membuktikan kegigihanya merebut kembali apa yang dianggapnya sebagai hak, meski tak selalu berhasil. Tapi setidaknya dunia menyaksikan meskipun dia hidup dalam “pengasingan” pikiran-pikiran dan idenya mampu menggerakkan Aceh hingga pada di tingkat akar rumput. Dia membangun sebuah pemerintahan “On Line” dimana dia sendiri menjadi pemimpinnya dan mempunyai tentara lengkap dengan panglima-panglimanya.

Kenyataanya gerakan ini bagi NKRI adalah sebuah pemberontakan, sejak mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah gerakan yang menginginkan kemerdekaannya, Aceh selalu bergejolak. Selalu ada alas an bagi Pemerintah pusat untuk menumpas milisi Aceh. Sayangnya pemerintah saat itu selalu menggunakan pendekatan militer untuk menyelesaikannya. Mulai dari penetapan sebagai daerah Oprasi Militer (DOM), darurat militer hingga penetapan sebagai darurat sipil (yang pada kenyataanya tetap saja militer yang lebih berperan).

Keberadaan GAM sejatinya menjadi alasan yang sangat kuat untuk sebuat oprasi militer bertahan di sana. Menurut saya Pemerintahan Suharto telah mengulang kesalahan yang dilakukanya dalam menumpas gerakan 30 September 1965. Saat itu hingga beberapa puluh tahun sesudahnya semua yang berbau, walau tidak terlibat secara langsung atau hanya sekedar simpatisan atau orang yang berteman dengan seseorang yang terlibat dianggap sebagai musuh Negara. Sebuah kekhawatiran yang berlebihan yang menyebabkan pembantaian, diskriminasi hingga pengucilan, sebuah pelanggaran Hak Asasi Manusia yang sangat berat.

Sama juga seperti penumpasan Gerakan 30 September 1965, Keberadaan GAM sangat mengusik dan dianggap membahayakan kesatuan dan persatuan Bangsa. Karenanya berapapun dana akan dikerahkan untuk sebuah oprasi penumpasan. Semua yang berbau GAM, ditumpas habis. Banyak aktivis di culik untuk kemudian tidak ditemukan lagi hanya karena menggugat ketidak adilan yang terjadi di bumi Serambi Mekah dan lalu di klaim sebagai pengikut GAM. Pengajian-pengajian atau peringatan hari besar agama dengan konsentrasi massa dianggap sebagai sebuah upaya makar (Ingat peristiwa simpang KKA, 3 Mei 1999). Tengku-tengku yang mencoba mengajarkan kemurnian Al Quranul karim di curigai sebagai pencuci otak (ingat peristiwa tengku Bantaqiah 23 Juli 1999). Sudah tak terhitung nyawa melayang baik dari pihak TNI, masyarakat sipil, dan GAM. Ribuan janda dan Yatim yang harus menaggung “hina” karena suami dan ayahnya dianggap GAM.

Pendekatan Militerisme yang terus dipakai untuk mengatasi konflik di Aceh inilah yang kemudian menimbulkan luka hati yang sangat mendalam bagi warga Aceh Sendiri. Sehingga terbuktilah rakyat Aceh telah membuktikan sendiri kebenaran dari pikiran-pikiran Hasan Tiro. Seorang Hasan Tiro telah jauh menganalisa bahwa Pemerintah pusat akan selalu menggunakan pendekatan ini. Karenanya, Dia membangun “Negara di bawah tangan” dan mengerahkan tentaranya untuk selalu bergelirya melawan segala bentuk tekanan. Seakan tak pernah habis, upaya pengkaderan dan perekrutan, sehingga mereka yang mengklaim sebagai TNA (Tentara Nangroe Aceh) jumlahnya terus bertambah. Akhirnya keduanya memakai pendekatan militerisme untuk sebuah klaim kebenaran Kemerdekaan Vs Integritas Bangsa, TNA Vs TNI.

Karl Liebknech (2004) mengatakan bahwa militerisme adalah tanda kehidupan yang terpenting dan terkuat karena ia mengekspresikan naluri mempertahankan diri (self-preserving instinct), yaitu naluri mendasar yang dimiliki oleh suatu kelas, budaya dan bangsa dengan cara yang khusus terkonsentrasi terstruktur dan terkuat. Inilah yang disadari oleh Hasan tiro, selain harus mengupayakan lobby-lobby internasional tentang pelanggaran HAM yang dilakukan NKRI untuk mendapatkan pengakuan, maka untuk mendirikan sebuah Negara yang merdeka diperlukan sebuah tentara yang nyata. Tentara yang bukan hanya sekedar gerombolan orang-orang bersenjata, melainkan sebuah organisasi terstruktur dengan garis komando yang jelas dan orang-orang pilihan yang terlatih. Dengan memakai kacamata Althusserian, Bahwa gagasan Hasan Tiro yang membentuk ideology tidak hanya mempunyai eksistensi spirit saja melainkan harus diturunkan ke dalam eksistensi materi. kepercayaan seseorang atau ideologi seseorang terhadap hal tertentu akan diturunkan dalam bentuk-bentuk material yang secara natural akan diikuti oleh orang tersebut. Misalnya jika kita percaya kepada Tuhan dan termasuk penganut agama tertentu, maka kita akan pergi ke gereja untuk mengikuti misa, pergi ke masjid untuk sembahyang lima waktu. Atau kalau kita percaya keadilan, maka kita akan tunduk pada aturan hukum, menyatakan protes, atau bahkan ikut ambil bagian dalam demonstrasi, jika ketidakadilan menimpa kita.

Hassan Tiro bukan tidak memikirkan sudah sekian banyak jatuh korban sejak GAM dideklarasikan. Upaya menuju perdamaian melalui meja perundingan terus digelar, toh tidak banyak berarti. Setidaknya tercatat 15.000 orang lebih meninggal dunia, 48.000 lainya menjadi pengungsi akibat konflik yang terjadi di Aceh[1]. Kehidupan social, ekonomi, budaya kacau balau dan tidak juga menempatkan Aceh sebagai bangsa yang bermartabat seperti harapan semula. Perlawanan yang di lakukan GAM tidak juga membawa rakyat Aceh ke dalam keadaan yang lebih baik. Rakyat berada pada situasi dilemma yang sangat sulit. Mengamini GAM sama dengan pemberontak, berada di pihak RI dianggap sebagai penghianat, dan sangat umum taruhan bagi keduanya adalah nyawa. Tidak ada kebebasan berpendapat, karena ada “telinga-telinga” intel yang selalu bergerilya. Salah-salah bicara, bias jadi kita tidak dapat lagi berkumpul dengan keluarga esok harinya.

Paskareformasi upaya-upaya menghentikan konflik di Aceh masih terus dilakukan dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang berbeda. Pada tahun 2000 GAM dan RI mencoba melakukan negosiasi untuk menghentikan konflik melalui jeda kemanusiaan, akan tetapi dampaknya hanya sedikit saja. Pada Desember 2002 ditandatangani kesepakatan gencatan senjata yang dikenal dengan Cessation of Hostilities Agreement (COHA), akan tetapi terjadi pelanggaran akan kesepakatan ini pada Mei 2003 yang menimbulkan ketidakpercayan dan menempatkan Aceh kembali pada Darurat Militer yang kemudian status darurat turun menjadi darurat Sipil pada 2004. Pemberlakuan darurat sipil tidak serta merta menghapuskan operasi-operasi militer yang dilakukan untuk menumpas anggota GAM. Pasukan GAM terdesak ke pegunungan dan keamanan propinsi menjadi tidak stabil, terjadi banyak kekacauan, penculikan, kekerasan dan pembunuhan[2].

Dibeberapa kelompok masyarakat GAM mendapatkan dukungan luas, meskipun demikian di beberapa kelompok lainya sangat tergantung pada loyalitas mereka. Meskipun demikian dukungan untuk GAM tidaklah sama dengan dukungan untuk aparat TNI. Konflik yang terjadi lebih digambarkan sebagai konflik vertikal daripada konflik horisontal. Seringkali masyarakat justru merasa tertekan, khawatir dan menjadi tidak berdaya dalam menentukan sikap.

Save by the Tsunami

Tsunami yang terjadi di penghujung 2004 telah membawa perubahan dinamis dari konflik itu sendiri. Tsunami memberi jeda bagi kedua belah pihak untuk kembali membuka kesempatan-kesempatan damai. Negosiasi yang di fasilitasi oleh Crisis Management Initiative di Finlandia, membawa pada kesepahaman bersama yang ditandatangani 15 Agustus 2005 di mana kedua belah pihak melakukan kompromi politik. Sebuah komitmen dibangun ditengah hiruk pikuk rehabilitasi paska bencana.

Konflik seolah berhenti karena disibukkan dengan upaya penanggulangan korban tsunami. Tsunami memberikan ruang dan kesempatan utuk memikirkan kembali bagaimana membangun Aceh, bukan hanya membangun Aceh secara fisik sekaligus membangun perdaban Aceh yang telah terkoyak sekian lama akibat konflik.

Meskipun kesepahaman diantara GAM dan RI telah dicapai, tidak serta merta bahwa konflik dengan segala konsekuensi yang ditimbulkan selama dan paska konflik dapat menguap begitu saja. Kemajuan pelaksanaan upaya damai ini memang tampak terlihat, tentu saja keberhasilan ini didukung oleh masyarakat Aceh dan komitmen yang kuat dari Pemerintah dan GAM yang kini lebih berfokus pada pembangunan Aceh paskatsunami.

Pada masa transisi ini pola konflikpun mulai bergeser, didaerah-daerah yang sebelumnya dikenal sebagai daerah-daerah basis perlawanan, insiden kekerasan mulai berkurang. Tetapi dampak dari konflik itu sendiri masih membekas bagi masyarakat baik secara fisik dan mental. Sebagai contoh hancurnya infrastruktur, hilangya mata pencaharian dan trauma yang berkepanjangan. Daerah-daerah ini tentu saja juga membutuhkan rehabilitasi dan rekonstruksi termasuk reintegrasi mantan anggota GAM di masyarakat. Dalam hal ini muncul resiko konflik baru. Potensi konflik mungkin tidak lagi menjurus kepada konflik vertikal sebagaimana sebelumnya, akan tetapi bergeser pada konflik sosial horizontal, misalnya masalah-masalah reintegrasi, masalah reformasi tanah, pengungsi dan masih banyak lagi hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik baru yang sebagai efek dari perdamaian dan pembangunan paskabencana[3] .

Saya kira seorang Hasan Tiro dapat membaca potensi “konflik” yang lebih besar di masa yang akan datang. Kesepakatanya untuk berdamai dengan NKRI tentu bukan pilihan main-main, harga diri Nangroe yang ia perjuangkan selama ini menjadi taruhanya. Dia mempunyai jiwa yang besar untuk menerima ini bukan sebagai kekalahan dalam peperangan. Sebuah pilihan yang arif. Ia memetuskan untuk kembali ke tanah di mana ia di lahirkan, bahkan ia rela kembali menjadi warga Negara Republik Indonesia. Dengan Sebuah pesan untuk selalu menjaga kedamaian di Bumi Serambi Mekah ini, Dia menghadap sang Khalik.

* Diterbitkan oleh Bandar Publishing dalam "Hasan Tiro Unifinished Story" Penyunting Husaini Nurdin, Banda Aceh 2010

[1] Aceh Conflict Assesment Report, by Helene Ostbye & David Tolfree, 2005

[2] Barron et al (2005), hal: 6.

[3] Aceh Monitoring Update, December 2005, World Bank/DSF : www.conflictanddevelopment.org, and as experienced in February 2006 by UNDP

Friday, September 7, 2007

Diantara “Ikhtiar” dan “Mendua”


Semarang 9 Agustus 2007, jam 7 pagi, baru saja kunyalakan Hp. Sebuah pesan singkat masuk dari teman di Jogja mengabarkan sebuah musibah, kost-kost anya kecurian, 3 motor + 6 helm + 1 jaket + 2 set sarung tangan + 1 celana hujan dalam jok motorku, Masya Allah…niat banget malingnya…Aku hanya terduduk lemas belum bisa berfikir apa yang mesti aku lakukan. Orang tuaku hanya terbengong-bengong mendengar beritaku…”kok bisa??” begitulah kira-kira reaksi yang kutangkap dari raut wajahnya.

Beberapa teman kuhubungi untuk sekedar memberi tahu, menghubungi teman polisi dan teman yang punya jaringan dengan preman-preman (katanya di negeri ini untuk urusan barang hilang, preman lebih bisa diandalkan dari pada polisi). Didalam bis menuju kantor aku hanya termangu-mangu, mengingat satu tahun terakhir ini bersama H 4611 CN. Motor itu telah setia menemani hari-hari menuntut ilmu di kota pelajar ini, mengantar teman-teman, belum pernah bocor ban, hanya suka ngadat kalau pagi, karena aki sudah soak dan butuh diganti. H 4611 CN, adalah andalanku untuk memancing teman-teman ke Jogja, ke jogja aja, nanti aku ajak jalan-jalan pake motor, begitulah setiap kali aku menawarkan iming-iming ke teman-teman. Tapi rupanya romansa kisah cintaku dengan H 4611 CN, harus berakhir setragis ini. H4611 di maling…duh gusti…ujiankah ini??

Dalam perjalanan ke jogja, perasaanku sudah sedikit lebih tenang. Buku kecil berjudul “Bertanya Tuhan tentang Rezeki yang sudah beberapa hari ini ku baca cukup mujarab untuk memahami apa yang sedang kualami. “Manusia seringkali mengira bahwa apa-apa yang mereka peroleh adalah semata-mata hasil kerja kerasNya, mereka lupa bahwa itu semua semata-mata dari Allah SWT”. Begitulah salah satu penggalan kalimat dalam buku tersebut..Masya Allah, tidaklah suatu kejadian Engkau ciptakan secara kebetulan, semua berada dalam hitungan dan kendali Nya..aku pun terlelap dalam perjalanan.

Langsung menuju TKP yaitu di asrama putri An-Nur, Jl. Monjali no 177 B, temanku dan beberapa anak asrama lainya sedang berdiskusi mencoba melakukan analisa dari kejadian tadi pagi, nampaknya si Maling memanfaatkan momen gempa yang sempat menggoyang Jogja malam itu. Persoalan mulai mengerucut dengan mengusut kunci siapa yang pernah hilang, tapi tetap buntu. Menurut anggota asrama bahkan induk semang mereka sudah mendatangi “orang pintar” untuk menanyakan siapa pencuri motor-motor anak asuhnya. Kabarnya sudah ada nama yang dicurigai. Katanya si “orang pintar” meminta si ibu untuk menyebutkan nama yang dia curigai, kendi yang ada pada si embah dukun ini akan berputar bila betul dia pencurinya. Nah lho…

Aku dan temanku berdiskusi, intinya ya sudah kita ikhlaskan saja, kehilangan ini bukan karena kesalahan prosedur pengamanan kendaraan, memang lagi sial saja motorku yang numpang parkir di situ ikut diangkut maling. Standar pelaporan kehilangan juga sudah dilakukan, 5 jam teman-teman ditanya-tanyai polisi dengan hasil 1 lembar surat kehilangan. Tapi rasanya kami pun pesimis dengan kinerja aparat kepolisian. Sudahlah…meskipun kesal sama si maling kami mencoba menerima kenyataan ini.

Urusan dengan “Orang Pintar”

Ternyata si induk semang yang merasa terlecehkan karena asramanya tentu akan mendapatkan cap baru sebagai asrama yang tidak aman belum berhenti usahanya. Dengan bujuk rayunya dia mengajak kami menemui orang pintar. KH “A” di Bantul, katanya bisa memperlihatkan muka si pencuri pada kita. Kami yang tidak pernah dan sebetulnya tidak mau berurusan dengan yang begitu-begitu menjadi susah hati dan merasa tidak enak untuk menolak. Kami khawatir si ibu tersinggung karena tawaran baiknya di tolak.

Meluncurlah kami ber 5, si ibu ditemani keponakanya, aku dan temanku, serta salah satu anak kost yang juga menjadi korban pencurian. Kami mencoba bergurau, kami semua mahasiswa, yang sering kali berhubungan dan berurusan dengan “orang-orang pintar” di kampus. Mulai dari para sarjana, para master, doctor dan professor, tapi bukan untuk urusan motor hilang tentunya. Apa kata dunia???

Singkat cerita sampailah kami di rumah si “orang pintar” dimaksud, sebuah rumah besar yang sekaligus dijadikan bengkel kerja las. Terasnya sengaja di buat agak luas untuk menampung tamu-tamu. Tuan rumah kiranya menyukai hewan langka, tampak di halaman berlenggak-lenggok dengan cantik kakaktua hitam dan putih, ada juga burung beo dalam sangkar. “Tamu harap menulis di buku tamu dan mengantri” sebuah papan kecil dipasang situan rumah di terasnya. Kami menunggu beberapa lama, tamu-tamu semakin banyak berdatangan, tapi sang “kyai” belum juga Nampak batang hidungnya. Rupanya karena hari jumat jam istirahat “kyai” jadi lebih panjang he..he..

Sang Kyai, umurnya sekitar 50 tahun, bertubuh besar, mukanya bulat lucu, memakai kaus berkerah dan sarung putih, kopiah putih melekat di kepalanya. Saat dia datang kami semua disuruh masuk ke dalam ruanganya, lebih tepatnya ruang kerja sang kyai, rupanya sang kyai akan memberi service secara masal. Sekitar 15 – 20 orang terdiri dari beberapa rombongan memasuki ruangan 3 x 6 m dengan sekat tirai menghubungkan dengan ruangan di sebelahya. Sebuah sofa yang sudah agak kusam berfungsi sebagai singgasana sang kyai, meja tamu didepanya di penuhi berbagai benda kecil, bekas-bekas amplop yang telah di buka bertumpuk disalah satu sudut meja, satu botol besar minumam mineral, satu buah toples berisi kacang telur dan berbagai benda kecil lainya yang tidak sempat terekam olehku, yang jelas mejanya tampak acak-acakan. Disebelahnya ada meja yang agak lebih tinggi, beberapa musaf al-Quran ditumpuk seadanya. Aku sengaja duduk di depan ingin mengetahui “atraksi” sang kyai dalam memberi nasehat kepada manusia-manusia yang datang dengan muka penuh pengharapan (kecuali kami ber 3, aku, Gita dan Helen) yang terpaksa harus berurusan dengan dunia perklenikan di Jogja, sedang induk semang teman-temanku ini mukanya tegang seperti KTP yang baru saja dilaminating. Disamping kanan sang kyai disediakan 2 kursi kayu bagi orang-orang yang berurusan denganya, selebihnya kami duduk di bawah meyaksikan sang actor berlaga. Klien pertama di panggil, ke depan, pasangan muda tampaknya.

“Opo masalahmu?” (apa masalahmu-red) atraksi dimulai…”anu kyai…saya mau jual tanah, biar cepat laku”….”mmmmm..tanahmu yang dimana?”(sambil memejamkan mata) sok tau sekali si Kyai ini pikirku, seperti tau saja kalau si klien punya banyak tanah. “Anu kyai, tanah yang di Depok” lanjut si wanita muda tadi. Sang Kyai berdiri menuju ruang di seblah yang tersekat oleh tirai hijau, beberapa detik kembali dengan gelas yang diisi beras, Kyai menggumam tidak jelas dia mengambil sejumput beras dikunyahnya. Atraksi diselingi dengan banyolan-banyolan dan celoteh si dukun, kadang memarahi klien, kadang melucu, aku seperti menyaksikan pertunjukan sulap di acara ulang tahun anak-anak. Sang kyai meletakan remahan beras yang dikunyahnya kedalam tanganya..dia berdoa lagi- aku berharap-harap cemas menanti apa yang akan terjadi, sang kyai meminta si klien membuka tanganya dan menerima sesuatu dari sang kyai, bukan sulap bukan sihir kawan…beras tadi berubah menjadi sesuatu (aku tidak bisa melihatnya dengan jelas) sepertinya biji-bijian berwarna hijau, “tanam di setiap sudut” begitu perintahnya. “Sudah pergi sana..” usir sang kyai pada klienya, si ibu muda ini belum juga beranjak…”Opo maneh???” sang kyai gusar “Anu kyai…..saya pengen punya anak” keluh ibu muda memelas, suaminya menatap sang kyai menghiba. Kembali sang kyai membuat banyolan-banyolan konyol dan fulgar..sungguh sangat jauh dari kesan alim, shaleh tawadhu seperti bayangku.

“yang nggak bisa kamu apa suamimu”, Tanya sang kyai…aku hampir tersedak mendengar pertanyaan yang sangat pribadi terlontar di depan bayak orang oleh “seorang pintar” …langsung menguap respect ku pada sang tokoh, tapi si ibu muda tadi masih takzim mengikuti instruksi sang dukun, meski jelas harga dirinya tersungkur dihadapan kami semua…namanya juga ikhtiar..mungkin seperti itulah jeritan hatinya.

Hari ini aku belajar dunia lain yang mau tidak mau aku harus pahami. Orang berdatangan mulai dari urusan bisnis yang kurang maju, jodoh yang tak kunjung datang, barang hilang, penyakit yang tak kunjung sembuh dengan muka-muka pengharapan kepada sang kyai konyol ini. Bagaimana mungkin??? Bagaimana mungkin masalah-masalah tersebut diselesaikan oleh sulap dan pertunjukan debus disertai banyolan ala tukul arwana yang fulgar. Aku membayangkan seandainya yang datang adalah para pejabat negara, anggota dewan yang terhormat, para mentri yang mengajukan masalah-masalah negara yang rumit…Ohhh…apa kata dunia???

Tiba giliran kami di layani, yang jelas aku tidak mau berurusan dan di permalukan oleh sang kyai didepan para pencari solusi melalui jalan pintas ini. Si induk semang dan teman yang juga kehilangan motornya yang menjadi korban sulap sang dukun, dengan mantra-mantra yang di ucapnya bukan sulap bukan sihir temanku diminta melihat kedalam sebuah gelas berisi air dan diminta membaca keras-keras apa yang dilihatnya….ragu-ragu si Helen membaca..”jalan…mangkoyudan..”.. lebih keras perintah sang kyai sedikit membentak Helen pun serta merta membacanya dengan keras. Atraksi belum selesai, rupanya si Induk semang yang khawatir rumah asramanya hilang pamor meminta perlindungan sang dukun,agar rumah kostnya menjadi aman seperti sedia kala. Seperti atraksi sebelumnya, setelah japa mantra diucapkan tiba-tiba muncul sebuah benda ditanganya…tanam di depan rumah perintah sang kyai.

Duh Gusti….ampuni hamba….

Lega rasanya meninggalkan rumah sang kyai…sebuah pelajaran yang sangat berharga ku dapat, sebuah fenomena yang nyata ada ditengah masyarakat kita. Paranormal, perdukunan, praktek klenik di balik kedok Islam sebuah agama mayoritas dinegeri ini menjadi pilihan instan bagi pencari masalah-masalah keseharian. Anda tidak perlu susah-susah belajar teori-teori bisnis, cukup datang ke kyiai “Anu”, si mbah “itu”. Aku bertanya kemana semua Dai lulusan Universitas Islam ternama yang menyeru untuk selalu meluruskan aqidah? apakah ilmu “sulap” sang kyai lebih mudah dipahami daripada pemahaman keimanan yang sangat abstrak?

Akhirnya tampaknya perlu kita renungkan, apa yang dimaksud dengan ikhtiar, karena seringkali kita memakai alasan “ikhtiar” ketika kita meyakini perklenikan. Batas antara ikhtiar dan keimanan pada yang ghaib bersinggungan dan menjadi kabur oleh “keyakinan-keyakinan” lain yang muncul, yakin bahwa sang Kyai dapat memberikan keamanan pada rumah kita, yakin bahwa sang kyai dapat melancarkan bisnis kita, mendatangkan jodoh kita, dan lain-lain. Bahkan seandainya Mr. Bush datang ke Kyai-Kyai perklenikan di Indonesia dia tidak perlu repot-repot menghancurkan Afghanistan hanya untuk mencari seorang Osama bin Laden he..he. Betapa tipis batas antara Ikhtiar dan “menduakan Tuhan”, Bukankah demikian kawan?

Saya tulis reportase ini hanya sebagai bahan renungan, bagi diri saya sendiri, bagi teman-teman yang saya sayangi. Terkadang sangat sulit untuk menjadi ikhlas mencapai tahapan tertinggi yang menguji setiap fase keimanan seseorang. Sangat ringan diucapkan tetapi sungguh sangat sulit untuk membuktikanya, terutama membuktikanya langsung kepada sang Khalik yang mengetahui setitik pun apa-apa yang ada di hati manusia.

Akhirnya, sekedar untuk mengingatkan

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."(QS: 2: 286)

Semarang: 11 Agustus 2004

Teruntuk sahabatku Gita, mudah-mudahan kita diberi kelapangan rezeki dan dimudahkan langkahmu ke tanah suci :-)

Friday, July 20, 2007

Perempuan di Persimpangan


Perempuan dalam wacana media: melihat gender discourse pada novel “Samira dan Samir”

Dunia sastra telah menjadi salah satu media bagi perempuan untuk menggugat ketidak adilan sekaligus memperjuangkan kesetaraan. Baik puisi, essay, memoar ataupun novel-novel yang ditulis oleh para penulis perempuan telah berani membongkar hal-hal yang tadinya dianggap “tabu” diungkap. Karya-karya mereka pada zamanya, selain mempengaruhi dunia sastra secara umum juga menandai perkembangan pemikiran masyarakat tentang kesetaraan dan relasi laki-laki dan perempuan sebagai manusia. Begitu banyak pengarang perempuan bermunculan dalam beberapa tahun terakhir, dan banyak dari mereka mendapatkan sambutan luar biasa baik dari penjualan, respon media dan penghargaan sastra (Bandel: 2006). Di Indonesia sebenarnya sastra yang mengungkap bentuk-bentuk ketidak adilan terhadap perempuan sejak zaman pujangga baru hingga kini tetap berkembang baik yang ditulis oleh laki-laki atau perempuan sendiri.

Novel Samira dan Samir ditulis oleh Siba Shakib seorang perempuan Iran yang dibesarkan di Jerman. Di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Ully Tauhida dan diterbitkan oleh Alvabet Bandung. Novel ini memuat perdebatan wacana-wacana jender sehingga menjadi menarik untuk di bedah lebih lanjut daripada sekedar menikmantinya hanya sebagai sebuah karya sastra. Novel ini mencoba menghadirkan bagaimana masyarakat mengkonstrusikan “laki-laki” dan “perempuan” dan apa yang terjadi jika seorang yang terlahir sebagai perempuan dikonstruksikan sebagai laki-laki.
Dengan mengambil setting di Afghanistan novel ini mencoba menyingkap bagaimana perempuan tertindaskan oleh hegemoni definisi laki-laki dan perempuan pada masyarakat pegunungan Hindu Kush pada saat itu. Dunia yang di bangun bahwa laki-laki lah yang punya hak untuk merdeka dan berhak mengambil kemerdekaan perempuan, dan bagaimana maskulinitas dan feminitas pada akhirnya menjadi sesuatu yang harus dipaksa untuk diputuskan secara “hitam putih” dalam pencarian identitas diri. Selain itu kisah ini juga menggambarkan pergulatan pencarian identitas ditengah konstruksi sosial yang telah terbangun atas diri seseorang.

Perempuan: Dimuliakan sekaligus dihinakan

“Ibuku bilang, laki-laki menghormati istrinya hanya selama mereka mampu melahirkan anak laki-laki bagi suaminya” (hal 6)

Penggalan kalimat diatas diucapkan oleh Daria istri kepala suku di pegunungan Hindu Kush yang menjadi salah satu tokoh dalam novel ini, meskipun jaman jahiliah sudah berlalu berabad-abad, akan tetapi nilai-nilai yang di yakini bahwa laki-laki mempunyai kedudukan yang lebih mulia masih tetap mengakar. Bahkan perempuan (Ibu) sangat berperan untuk terus menerus mereproduksi nilai-nilai patriaki ini pada anak-anaknya. “Ibu” dalam Islam yang menjadi setting budaya novel ini, adalah sosok yang agung, akan tetapi “ibu” jualah yang ternyata membangun nilai-nilai dimana “kehormatan” seseorang ditentukan oleh jenis kelamin anak yang di lahirkan oleh istrinya. Disinilah konstruksi perempuan sebagai subordinat mulai dibangun. Di dalam beberapa kebudayaan nilai-nilai ambigu di mana perempuan sebagai sosok yang diagungkan menurut teks-teks suci sekaligus dihinakan tetap di pertahankan. Pertentangan pandangan antara adat dan ajaran suci menurut Zainal Al Ma’adi lebih disebabkan adanya kegagalan memahami ide-ide umum teks-teks suci dan terpaku pada ide-ide ad hock nya sehingga pesan-pesan dasar dari teks suci tidak dapat di pahami karena interprtasinya hanya terpaku pada makna lahiriah sebuah kebahasaan teks (Gandhi:2006).
Maka ketika Daira ternyata melahirkan seorang bayi perempuan, itu adalah kehinaan bagi suaminya sang kepala suku meskipun lahir dari seorang “ibu” yang di muliakan. Kehormatan sebagai kepala suku telah dihancurkan dengan kelahiran seorang bayi perempuan, toh pada akhirnya sisi kemanusiaan dalam dirinya tidak sampai hati untuk menghilangkan nyawa bayi perempuanya.

“Kita akan memberikan nama “Samira”, kita panggil dia “Samir”, maka masyarakat akan beranggapan kau telah memberikan seorang putra” (hal 28)
Begitulah pada akhirnya sebuah keputusan diambil oleh sang ayah yang tidak mau kehilangan kehormatanya sekaligus tidak mau kehilangan anaknya. Keluarga dan orang tua adalah orang pertama yang membangun apakah seorang anak akan tumbuh menjadi laki-laki atau perempuan. Disinilah cerita ini menampilkan implementasi dari teori feminis liberal gelombang pertama yang percaya bahwa gender adalah produk budaya sosial dan bukanlah suatu yang dibawa dari lahir. Pemikiran inilah yang berkembang pada abad ke 18, misalnya pemikiran Wollstonecraft meskipun pada saat itu dia tidak menggunakan istilah “peran gender yang dikonstruksikan secara sosial”, Wollstonecraft menyangkal perempuan secara alamiah membawa sifat-sifat seperti keibuan, kelembutan, emosional, baginya sifat-sifat tersebut dibentuk oleh masyarakat, dia berargumentasi apabila laki-laki disimpan dalam sangkar yang sama sebagaimana perempuan maka maka laki-laki pun akan mengembangkan sifat yang sama seperti perempuan (Tong:2005). Feminist liberal percaya bahwa identitas gender semata-mata adalah produk sosialisasi yang dapat diubah jika masyarakat menginginkanya. Dalam beberapa aliran paham feminisme, memang ada asumsi yang melandasi teorinya bahwa tidak ada perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki selain menyusui, menstruasi dan melahirkan.
Inilah yang terjadi pada “Samira” yang menjadi “Samir”, ayahnya satu-satunya orang yang mengetahui kelahiran dirinya selain ibunya sendiri telah telah menetapkan dirinya sebagai laki-laki dan secara tidak langsung membunuh “kodrat” kewanitaan yang dibawanya saat ia dilahirkan. Karena dikondisikan sebagai “Samir”, setiap fase perkembangan Samira kecil yang membawa feminitas sebagai bagian dari perkembangan dalam pertumbuhan perempuan ditolak. Misalnya diceritakan dalam novel ini, ayah Samir mengajarkan berburu ikan dan membunuhnya, Samir kecil menolak karena baginya ikan yang menari lebih indah dari ikan yang mati. Secara tidak langsung digambarkan jiwa Samir yang menolak sifat “keras dan pemberani” sebagaimana maskulinitas dikonstruksikan, tetapi ketika dengan kelembutan, ibunya memintanya membunuh ikan-ikan tersebut Samir justru dapat memahami mengapa dia harus membunuh ikan-ikan tersebut sebagai kebutuhan hidup dan keberlangsungan hidupnya sebagai manusia. Dapat dilihat bahwa “kelembutan” seorang ibu justru menjadi alat yang kuat dalam konstruksi maskulinitas pada seorang gadis kecil. Disinilah konflik dalam diri Samir pada proses pertumbuhan dimunculkan. Feminis liberal boleh saja menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin (biologis) dan sifat, tetapi ilustrasi diatas menawarkan dua asumsi; yang pertama bahwa wanita dapat mempuyai kapasitas atau kemampuan yang sama dengan pria dalam melakukan pekerjaan, bahkan dalam merasionalisasikan tindakan. Kapasitas ini dapat menyangkut kemampuan, kepandaian dan ketahanan fisik. Asumsi kedua adalah, perempuan karena pengaruh biologisnya tidak mempunyai keinginan, aspirasi atau ambisi yang sama dengan laki-laki. Kedua asumsi ini dapat dipakai untuk membedakan kemampuan dasar manusia, yaitu yang bersifat universal, dan yang bersifat spesifik. Kemampuan universal adalah kemampuan dimana laki-laki dan perempuan mempunyai kapasitas dan potensi yang sama, sedangkan kemampuan spesifik adalah kemampuan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan karena adanya perbedaan bilogis (Megawangi:1999).

Nature Vs Nurture

Sampai pada saatnya ketika Samir yang Samira mengetahui bahwa secara biologis dia berbeda dengan anak laki-laki lainya, tetapi secara sosial dia harus menjaga “kehormatan” orang tuanya. Demi kehormatan dan kebahagiaan orangtua dalam dunia sosialnya, Samira memutuskan untuk tetap menjadi Samir. Disinilah diceritakan bagaimana krisis dalam diri Samira terjadi. Sebagai Samir seorang putra kepala suku dia mendapatkan penghormatan dari masyarakatnya, mendapatkan kebebasan untuk tidak melakukan “tugas-tugas perempuan”, muncul protes dalam dirinya atas ketidak adilan yang diterima ibunya, dan perempuan-perempuan lainya dalam kisah tersebut. Cerita ini menunjukkan apa yang diyakini feminis marxis bahwa opresi terhadap perempuan bukanlah hasil tindakan sengaja individu, melainkan produk dari struktur politik, sosial dan ekonomi tempat individu hidup. Seperti Marxis pada umumnya, feminis Marxis mempercayai bahwa eksistensi sosial menentukan kesadaran. Anggapan bahwa “pekerjaan perempuan tidak pernah ada habisnya” bagi feminis Marxis adalah lebih dari sekedar aforisme. Anggapan tersebut merupakan gambaran dari sifat pekerjaan perempuan. Dengan selalu siap bertugas seorang perempuan membentuk konsepsi dirinya yang tidak akan dimilikinya jika peranya di dalam keluarga tidak menahanya untuk tetap sub ordinat terhadap laki-laki baik secara sosial maupun ekonomi. Menurut Tong, feminis Marxis percaya bahwa untuk memahami mengapa perempuan teropresi sementara laki-laki tidak kita perlu melihat hubungan antara status perempuan dan citra diri perempuan (Tong: 2005: 141). Bagi feminis Marxis pekerjaan perempuan membentuk pemikiran perempuan dan karenanya membentuk “sifat-sifat alamiah” perempuan. Pembagian kerja berdasarkan sex atau dua tigkat pembagian kerja berdasarkan sex menunjukkan bahwa patriaki atau supremasi laki-laki muncul sehingga para feminis mengkonsepsikan patriaki sebagai masalah struktural bagi perempuan (Agger:2003: 200).
Sebagai “Samir”, Samira menyaksikan ketidakadilan berlaku bagi perempuan dimana pada masyarakatnya dianggap sebagai suatu kelaziman. Dalam analisis feminis Marxis inilah yang disebut sebagai kesadaran kelas. Analisa Marxis mengenai kelas, telah menyediakan bagi para feminis beberapa alat konseptual yang diperlukan untuk memahami opresi perempuan. Kesadaran kelas jelas merupakan lawan dari kesadaran semu, suatu keadaan pikiran yang menghambat penciptaan dan kelangsungan kesatuan suatu kelas sejati. Kesadaran kelas menyebabkan orang-orang yang tereksploitasi untuk percaya bahwa mereka bebas untuk bertindak dan berbicara sama seperti orang-orang yang mengeksploitasinya (Tong: 2005:144).
Ratna Megawangi dalam bukunya Membiarkan berbeda menyebutkan , bahwasanya ada dua argumentasi yang saling bertentangan mengenai pembentukan sifat maskulin dan feminin pada laki-laki dan perempuan. Argumentasi pertama mempercayai bahwa perbedaan sifat maskulin dan feminine berhubungan dengan perbedaan bilogis (sex) pria dan wanita. Perbedaan biologis pria dan wanita adalah alami karenanya sifat stereotip gender sulit untuk diubah, argumen ini sering disebut sebagai mazhab esensial biologis. Argumentasi kedua meyakini bahwa pembentukan sifat maskulin dan feminin bukan disebabkan oleh adanya perbedaan bilogis antara laki-laki dan perempuan, tetapi lebih karena sosialisasi atau kulturasi. Aliran ini tidak mengakui adanya sifat alami maskulin dan feminin (nature), tetapi yang ada adalah sifat tersebut dikonstruksikan oleh budaya melalui proses sosialisasi (nurture). Argumen ini membedakan antara sex yang merupakan konsep nature dan gender yang merupakan konsep nurture. Pandangan seperti ini lebih dikenal sebagai mazhab orientasi kultur (Megawangi : 1999:94-95)
Ketika sebagai seorang anak yang sedang tubuh Samira mengalami perubahan fisik dan mengalami kebingungan, apakah dia ingin menjadi perempuan atau laki-laki, Daria sang ibu menawarkanya untuk membandingkan keadaan laki-laki dan perempuan dan menyerahkan keputusan ini pada Samir.
“Keputusanya mudah saja, kata sang ibunda. Pergilah keluar dan amati kehidupan yang kau jalani bersama lelaki lalu lihatlah aku dan perhatikan kehidupan yang aku dan kaum wanita lain jalani” (hal 188)Kisah ini menampilkan bahwa menjadi laki-laki atau perempuan adalah pilihan. Tetapi meskipun pilihan tersebut mutlak berada pada individu, pilihan harus dijatuhkan hitam-putih, sebagaimana lingkungan sosial menginginkanya demikian, menjadi lelaki (dengan membawa sifat-sifat maskulin) atau menjadi perempuan (dengan membawa sifat-sifat feminine) termasuk konsekwensi pekerjaan dan fasilitas dari pilihan tersebut.
Semakin bertambah dewasa Samira, semakin komplekslah pergulatan konsep nature vs nurture pada dirinya. Apalagi ketika dalam cerita tersebut dikisahkan Samira sebagai seorang gadis jatuh cinta kepada seorang laki-laki tetapi juga dibingungkan apakah dia harus “ berhasrat” pada laki-laki atau perempuan, sedang lingkungan sosialnya terlanjur melihatnya sebagai laki-laki sejati. Samira juga diperlihatkan bagaimana perempuan-perempuan dilingkunganya ketika menjadi istri semakin kehilangan kemerdekaan-kemerdakan yang memang sudah terbatas sebelumnya. Bagaimana perempuan-perempuan tidak mempunyai kekuatan ketika suaminya memutuskan untuk menikah lagi sebagai legitimasi atas kehinaan perempuan yang tidak dapat melahirkan keturunan dan mempertahankan kehormatanya sebagai laki-laki. Tetapi pada saat bersamaan Samira tidak dapat menolak hasrat pada diriniya bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada laki-laki sebagai sifat bawaan dari keadaan biologisnya. Lebih parah lagi ketika dia mau tidak mau sebagai “laki-laki sejati” harus menikah dengan putri kepala suku lainya.
Terlihat bahwa wacana pergulatan pemikiran-pemikiran feminis modern muncul. Feminisme berada pada persimpangan modernitas dan posmodernitas. Perdebatan yang mengantrakan feminisme menghadapi kritik dari dalam dan luar wacananya sendiri. Marshal misalnya, melihat kegagalan teori-teori modernitas bagi feminisme adalah ketidakmampuanya memahami “perbedaan” secara memadai. Baik sebagai politik emansipasi maupun sebagai tubuh, teori kritis dan politik feminisme terus menggunakan retorika egalitarian sebagai dasar sebagian besar tuntutan politiknya. Feminisme berdampingan dengan modernitas atas dasar keberakaranya didalam ruang terbuka lebar oleh wacana hak. Marshal juga mencatat bahwa pada saat yang bersamaan komitmen feminisme pada “perbedaan” dan keanekaragaman serta pendirian skeptisnya terhadap nalar membangkitkan posmodern. Lalu munculah apa yang dikatakan Marshal sebagai peningkatan keragu-raguan atas premis teori Marxis ortodoks bahwa identitas individu, kesadaran dan esensi makhluk sosial berasal dari pososi seseorang didalam pembagian kerja secara sosial (Brooks: 2005: 20– 21).
Kembali Menjadi Diri Sendiri
Suatu saat Samira memperoleh kesempatan untuk membunuh “Samir” dalam dirinya disaat dia telah menemukan laki-laki yang dicintainya yang kiranya menurut Samira tidaklah mungkin akan melakukan ketidakadilan terhadap dirinya. Kembali Samira dihadapkan pada masalah klasik budaya masyarakat, konstruksi masyarakat tentang laki-laki dan perempuan, tentang bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperilaku didalam lingkungan sosialnya. Suami yang menurutnya dapat memberikan keadilan dan perlakuan sebagaimana ketika dia menjadi “Samir” tetaplah tidak mampu melawan lingkungan sosial yang telah terbangun dan mempengaruhi perilaku individu. Samira tetap tidak mendapatkan kebebasan sebagaimana ketika dia sebagai Samir.
Disinilah kisah ini memasuki wacana subjektifitas dan identitas. Subjektifitas dan identitas didalam pembentukan teori feminis erat berhubungan dengan epistimologi dalam analisis teoritis feminis dan hubungan antara pengetahuan feminis dan pengalaman perempuan. Sandra Harding mencoba menelaah jenis-jenis subjek atau agen sejarah dan pengetahuan serta proyek yang dihasilkan serta logika teori pendirian (standpoint theory). Harding mencirikan hal ini sebagai “menemukan diri kita sebagai yang lain (other)”, selanjutnya dia menanyakan apakah benar hanya mereka yang tertindas yang dapat memperoleh pengetahuan penindasan, dan apakah pemahaman penindasan hanya dapat muncul dari pengalaman penindasan (Brooks : 2005:28). Sebagaimana persimpangan feminisme dengan modernisme yang menyediakan alat konseptual dalam memahami opresi terhadap perempuan, persimpangan feminisme dengan posmodernisme telah menyediakan feminisme suatu kerangka kritik, wacana, dekonstruksi dan perbedaan yang telah digunakan untuk menentang dan melihat kembali asumsi-asumsi tradisional mengenai identitas dan subyektifitas (Brooks : 2005:28).
Weedon menelaah lebih jauh, menurutnya konsep wacana postrukturalis sangat penting bagi feminisme. Dengan memakai kacamata Foucault yang menyoroti sifat dasar kuasa yang mempunyai banyak sisi, Weedon berpendapat bahwa feminisme harus menyelidiki “situs-situs” diskursif kuasa laki-laki sebagaimana diartikulasikan dan dilegitimasi dalam struktur institusional dari kuasa dan bentuk pengetahuan. Bagi Weedon usaha untuk mendefinisikan kembali kebenaran tentang sifat dasar perempuan didalam istilah-istilah relasi sosial yang sedang berlangsung, sebagaimana usaha feminisme liberal untuk membangun kesetaraan dengan laki-laki, ataupun juga penekanan feminis radikal pada perbedaan mutlak yang diekspresikan sebagai separatisme, keduanya tidak memadai secara politis. Disini postrukturalisme membangun pengalaman sebagai sesuatu yang kontradiktif dan identitas sebagai sesuatu yang plural (Brooks: 2005).

Melampaui Feminisme dan Maskulinisme

“Samira” yang “Samir” ataupun “Samir” yang “Samira” keduanya mengalami penindasan dan ketidakadilan, baik ketika dia konstruksikan sebagai laki-laki maupun ketika dia memilih untuk menjadi perempuan. Pergulatan pemikiran feminis liberal yang percaya bahwa fiminitas dan maskulinitas adalah produk budaya berdialektika dengan aliran esensial biologis telah membuka wacana-wacana baru. Tawney sebagaimana dikutip oleh Megawangi mencoba menawarkan kesetaraan kontekstual dalam mencapai keadilan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Konsep ini tidak serta merta memberikan perlakuan yang sama melainkan memberikan perhatian yang sama kepada seluruh manusia yang mempunyai kebutuhan berbeda. Tawney mengakui adanya keragaman pada manusia baik biologis, aspirasi, kebutuhan dan kemampuanya. Sebagimana Vandana Shiva, seorang tokoh feminis yang juga menawarkan kesetaraan kontekstual yang menghormati keragaman individu. Menurut Shiva diferensiasi peran tradisional laki-laki dan perempuan harus dilhat sebagai peran yang berbeda bukan sebagai peran yang tidak setara. Keduanya berperan sama penting meskipun aktvitasnya berbeda (Megawangi: 1999:225). Wacana yang menghadapkan laki-laki dan perempuan dalam oposisi biner sebagai yang lebih tinggi dan lebih rendah, pencari nafkah dan pengatur rumah tangga, public dan domestic, rasional dan emosional adalah opresi yang menimpa baik laki-laki dan perempuan. Ideologi patriaki memaksa laki-laki menjadi bersifat opresif, mewajibkan untuk selalu lebih dan berpotensi dari perempuan, kenyataanya laki-laki juga adalah kelompok manusia yang beragam (Prabasmoro: 2006)
Meski tidak menelaah secara keseluruhan baik dari cerita maupun pemikiran-pemikiran feminis, tulisan ini mencoba melihat perbincangan pemikiran-pemikiran feminis dalam sebuah karya sastra. Cerita-cerita yang disajikan dalam novel meskipun fiktif memiliki kedekatan dengan keseharian kita, sehingga ilustrasi-ilustrasi yang dipaparkan dapat kita lihat dengan berbagai perspektif yang dikembangkan oleh para teoritisi feminis.
Feminisme bukanlah wacana yang tunggal dan terlepas dari wacana lain. Pergulatan pemikiran feminisme berkembang dan selalu bersinggungan dengan pemikiran-pemikiran yang biasa disebut “dead male theorist” atau teori-teori besar yang sedang berkembang. Misalnya bagaimana feminisme menjawab modernitas, feminisme beririsan dengan posmodernisme dan postrukturalis, juga pengaruh pemikiran-pemikiran feminisme pada poskolonial. Sebagaimana ilmu sosial yang selalu bergerak mengikuti pergerakan zaman, demikian juga wacana feminisme. Memiliki perspektif feminis menjadikan kita mempunyai kesadaran akan persoalan-persoalan ketidakseimbangan sebagai persoalan yang saling berkait. Feminisme menjadi lebih lengkap justru ketika feminisme tidak dapat melekpaskan diri dari cara pandang berbagai aliran feminisme yang lain (Prabasmoro: 2006: 47).

Bahan Bacaan
Agger, Ben. 2003, Teori Sosial Kritis, Yogyakarta : Kreasi Wacana
Arivia, Gadis. 2003, Filsafat Berprespektif Feminis, Jakarta: YJP
Bandel, Katrin. 2006, Sastra, Perempuan, Sex, Yogyakarta : Jalasutra
Brooks, Ann. 2005, Posfeminisme dan Cultural Study, Yogyakarta: Jalasutra
Gandhi, Laela.2006, Teori Poskolonial: Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat, Yogyakarta: Qalam
Megawangi, Ratna.1999, Membiarkan Berbeda: Sudut Pandang Baru tentang Relasi Jender, Bandung: Mizan
Prabasmoro, Aquarini Priyatna. 2006, Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop, Yogyakarta: Jalasutra
Shakib, Siba. 2006, Samira dan Samir, Jakarta: Alvabet
Tong, Rosemarie. 2005, Feminist Tought, Yogyakarta: Jalasutra

Tuesday, June 5, 2007

Sedikit melongok hasil dari proses Rekonstruksi


(Sebuah oleh-oleh dari Banda Aceh)

Untuk kesekian kalinya, dengan alasan “tertentu” saya kembali ke Banda Aceh. Kota yang konon saya cintai. Kira-kira sudah hampir satu tahun ketika saya memutuskan untuk berhenti bekerja di kota serambi Mekah ini dan memutuskan untuk menuntut ilmu di kota yang juga saya cintai Yogyakarta.
Selalu ada rasa yang bercampur aduk ketika saya hendak memasuki kota ini. Seperti hendak menjumpai kekasih, atau berjumpa musuh, percampuran antara perasaan senang yang membuncah, sedih , geram dan lelah, sulit sekali diceritakan.

Perjalan ini saya mulai dari Medan melalui jalan darat menuju Lhokseumawe untuk melepas rindu dengan beberapa teman disana (oleh-oleh dari lhokseumawe akan saya sampaikan pada tulisan lain), belum puas melepas rindu perjalanan saya lanjutkan ke Banda Aceh. Dalam perjalanan sudah tampak beberapa hasil dari proses rekonstruksi, barak-barak yang bisa dijumpai di kiri kanan jalan Banda Aceh menuju Medan, mulai dari Bireun, lalu Pidie dan Aceh Besar mulai berkurang. Sayangnya disisi lain mobil-mobil bantuan dengan tulisan besar-besar juga telah beralih fungsi, misalnya saya melihat mobil bantuan dari keduataan Malaisya telah berubah menjadi angkutan umum antar kota, bahkan mobil perpustakan keliling yang seharusnya memuat buku-buku untuk di baca oleh public telah berganti dengan penumpang dari Bireun yang hendak ke Banda Aceh (tragis dan salah kaprah).

Memasuki kota Banda Aceh (Belum sampai ke kota), sebuah bangunan hotel baru megah berdiri “Grand Nangroe” Hotel, lalu tak jauh dari situ juga berdiri “Oasis” Hotel, mungkin setara dengan bintang 3++, Sedang hotel “Swiss Bell” yang tahun lalu ketika saya pergi dari Banda Aceh masih dalam pembangunan, sekarang sudah megah beridiri. “Wow” saya terkagum-kagum sendiri menyaksikan kota ini berkembang begitu cepatnya. Memasuki kota, sudah ada pizza hut- restoran pizza terpopuler di Indonesia, juga Papa Rons. Banda Aceh seperti tidak pernah mengalami kejadian yang sangat luar biasa yang menyorot perhatian dunia.

Sekelumit rasa senang hadir menyaksikan perkembangan kota ini, selebihnya lebih banyak perasaan khawatir akan perkembanganya dengan cara-cara “instant” layaknya anak-anak bangsa ini yang dipaksa menjadi dewasa dengan konsumsi media yang tidak sehat.

Seorang kawan berbaik hati menampung saya selama di Banda Aceh, rumah mungil bantuan dari salah satu LSM internasional telah berdiri. Rumah dengan dua kamar ruang, ruang tamu dan dapur serta maker mandi ini terkesan dibangun asal-asalan sama seperti rumah BTN saya (he..he). Meskipun coba ditutupi dengan mengecatnya memakai warna yang manis toh tidak cukup menutupi kualitas bangunan secara keseluruhan. Bukan karena saya pernah belajar ilmu bangunan maka saya bisa menilai- “kecelakaan pembangunan” model begini sangat gampang di lihat kasat mata bahkan oleh orang yang tidak pernah belajar ilmu bahan. “ Yah namanya juga bantuan, dikasih juga udah syukur”, begitulah teman saya menyerah pada keadaan. Belum selesai saya mengamati “rumah bantuan” teman saya sudah mengeluh, Sebentar lagi kami harus mengungsi lagi, sudah ada pemberitahuan dari pihak LSM, katanya ada kesalahan teknis pada pemasangan pondasi, rumah ini akan segera di bongkar karena tidak memenuhi spesifikasi dan tidak aman bagi penghuninya. Saya hanya melongo dan geram tidak sanggup berkomentar, kerja macam apa ini. Di bangun, dibongkar, dibangun lagi munujukkan kerja yang amburadul, asal jadi dan tentu saja menghabiskan uang.

Mengunjungi kawan-kawan lainya yang satu tahun lalu masih dibarak-barak pengungsian sudah tersenyum manis di rumah-rumah bantuan menyambut saya dengan cerita-cerita seputar rumah barunya sedikit mengobati rasa geram saya, setidaknya ada tempat berlindung dari panas dan hujan yang lebih layak dari pada barak-barak pengungsian. Tetapi bagaimana pertanggungjawaban pihak pembangun akan kualitas bangunan, apakah bila masyarakat dengan “rela” hati menerima (daripada terus tinggal dibarak) dengan serta merta menghapuskan tanggung jawab profesi yang diembanya? Kepesatan pembangunan disini ternyata tidak diimbangi dengan kepesatan pembangunan mental orang-orang yang terlibat didalamnya, ataukah mereka tidak mampu keluar dari pusaran sistem bobrok yang telah mengakar?

Ah…semakin penat saya memikirkan carut marutnya proses rekonstruksi ini, sebaiknya saya menerima tawaran seorang teman untuk minum kopi di Solong, kedai kopi paling tenar di Banda Aceh sambil mencari informasi-informasi terkni dari diskusi-diskusi ringan bersama teman-teman..

Banda Aceh, 21 Mei 2007